Dinginnya udara malam menusuk sampai ke tulang dalam perjalanan dari kampung halamanku di sebuah desa kecil di kota Medan menuju suatu tempat di Pulau Jawa. Suatu tempat yang tidak aku kenal. Kata ibuku, dulu saat aku masih berumur 2 tahun pernah datang ke tempat yang sekarang aku tuju ini. Kira-kira 16 tahun yang lalu. Dan sekarang aku harus datang ke tempat itu memenuhi undangan dari seseorang yang telah menghancurkan keluargaku.

Tapi, kenapa aku mau melakukannya? Kenapa aku mau memenuhi undangan itu? Untuk balas dendam? Mungkin, tapi balas dendam yang seperti apa? Atau hanya sekedar untuk menghakimi? Apakah aku seorang hakim yang baik dalam masalah ini? Oh entahlah. Kenapa juga aku harus memikirkan semua itu?

Bis yang aku tumpangi pun terus berjalan seiring dengan berjalannya malam. Seluruh tanya hadir dalam benakku. Tak lupa aku juga mengumpulkan segala pertanyaan untuk menghakimi pria yang telah mengundangku.

Setelah beberapa hari perjalanan, saat senja mulai turun, akhirnya sampai juga aku di sebuah desa dengan masyarakatnya yang ramah. Aku bisa mengatakan masyarakatnya ramah karena mereka selalu menyapa dan tersenyum dengan ramah kepadaku. Sebagian orang sudah mengenal namaku, padahal aku sama sekali tak mengenal mereka. Mereka yang telah mengenalku langsung menuntunku ke sebuah rumah. Rumah kecil dengan pelataran luas dan banyak pepohonan di depannya. Dari luar aku melihat sosok setengah baya telah menungguku.

Sosok setengah baya itu duduk di kursi ruang tamu. Kulitnya yang hitam dan keriput serta badannya yang kurus kering membuatnya terlihat lebih tua dari umurnya. Dia berdiri menyambutku dan memelukku dengan erat, tapi kenapa aku tak bisa merasakan kehangatannya. Kenapa seakan aku tak pernah mengenal pria ini. Dan akupun tak mampu untuk membalas pelukannya, aku hanya bisa diam terpaku di tempat aku berdiri.

Kata-kata yang selama perjalanan aku kumpulkan untuk menghakiminya sedikit demi sedikit mulai terhapus dari ingatanku. Sungguh aku tak tega untuk marah apalagi membentaknya.

“Bagaimana kabarmu dan adik?”, katanya memulai pembicaraan. Sungguh aku kangen dengan kalian. Tapi aku tak bisa berbuat apa-apa dengan keadaan ini. ”, dia melanjutkan dan tiba-tiba dia terdiam. Matanya memerah dan air mulai menggenangi matanya.

“Kami baik-baik saja. Begitu juga ibu yang telah engkau tinggalkan, dia masih sehat dan terlihat muda”, kataku sedikit ketus.

“Syukurlah… Bagaimana kuliahmu? Dan bagaimana dengan sekolah adikmu? Apa kalian kekurangan biaya? Apa kalian butuh sesuatu?”

“Tidak. Kami tidak kekurangan apapun. Kami bahagia dengan keadaan kami.”

Tiba-tiba kami terdiam lama. Hanya kesunyian yang ada diantara kami. Dia berjalan sedikit terpincang sambil memapahku dan mempersilahkan aku duduk.

Kemudian sosok perempuan masuk ke ruang tamu sambil membawa dua gelas air. Jika dilihat dari sosoknya, jelas dia jauh lebih muda dibandingkan dengan pria yang ada di depanku. Dia tersenyum hangat ketika melihatku. Setelah meletakkan gelas yang berisi air minum, dia menyalamiku sambil memelukku.

“Dandi ya? Ini aku, Tante Rike. Gimana kabarmu? Wah…ternyata kamu sekarang sudah dewasa ya. Gimana kabar adikmu? Apa dia sehat-sehat saja? Kenapa tidak sekalian kamu ajak kesini?”, dia terus bertanya dengan ramah. Tutur katanya halus, benar-benar menunjukkan bahwa dia seorang perempuan jawa yang terpelajar.

“Kabarku baik-baik saja, begitu juga dengan adik. Adik ga bisa kesini karena masih sibuk dengan sekolahnya.”

Setelah selesai aku menjawab, dia pun pergi meninggalkan aku dengan pria itu.

Tak lama setelah Tante Rike pergi meninggalkan kami, pria setengah baya itu memulai berbicara lagi padaku.

“Maafkan aku. Selama ini aku tak bisa menjengukmu. Mungkin kamu juga tahu sendiri kenapa aku melakukan itu.”

“Maafkan katamu? Setelah sekian lama kamu meninggalkan aku, adik serta ibu, sekarang kamu minta maaf? Dimana perasaanmu? Dimana tanggungjawabmu sebagai seorang ayah? Oh, bukan. Kamu bukanlah ayahku. Ayahku tak mungkin meninggalkan keluarganya. Ayahku bukan seorang pengecut. Ayahku sudah mati.”, entah setan mana yang telah merasukiku sehingga kata-kata kasar itu terlontar begitu saja dari mulutku.

“Kamu bicara apa? Kenapa kamu bicara seperti itu? Jadi selama ini kamu masih belum tau apa yang terjadi antara aku dengan ibumu? Oh Tuhan….”

“Aku sudah tahu semuanya! Apalagi yang harus aku ketahui?”

“Belum, kamu belum mengetahui semuanya. Kamu mungkin hanya mendengar cerita dari ibumu dan tak pernah mendengar cerita dari orang di sekitarmu.”

“Apalagi? Mendengar cerita dari orang-orang yang tidak suka dengan ibuku? Cerita yang menjelek-jelekkan ibuku yang telah membesarkan aku?”

“Diam!”, tiba-tiba pria itu berteriak.

“Kamu yang diam!”, jawabku tak kalah sengitnya. “Apa hakmu untuk membentakku?”

Tiba-tiba dia terdiam dan menitikkan air matanya. Sungguh aku tak ingin melihat pria ini menangis. Pria yang telah meninggalkan keluarganya kini menangis di depanku, apa yang harus aku lakukan? Pergi. Aku harus pergi meninggalkan tempat ini sebelum tangisan pria ini mempengaruhi pikiranku dan membuat aku lemah. Tapi aku harus pergi kemana? Aku tak mengenal siapa-siapa disini. Keluargaku? Oh bukan, keluarga dari pria yang telah menyakiti ibuku banyak disini. Tapi aku juga tak mengenal mereka. Tante Rike, iya Tante Rike yang pernah aku kenal. Itu pun hanya lewat telepon saat ayah belum meninggalkan ibuku.

Mungkin Tante Rike dapat mendengar suara hatiku. Tiba-tiba dia masuk ke ruang tamu.

“Kamu istirahat saja dulu, pasti kamu capek banget.”, suaranya memecahkan kesunyian. Dia menuntunku ke sebuah kamar dan meninggalkan aku di sana.

oooo00000oooo

Pagi itu aku dan adikku sedang bersiap untuk berangkat sekolah. Tiba-tiba ayah memintaku untuk duduk sebentar. Ayah mengambil gambar aku dan adik dengan kamera handphonenya. Aku dan adik hanya diam menuruti perintah ayah.

Setelah itu ayah mencium dan memelukku dengan hangat. Beliau menitikkan air mata. Aku tak tahu apa yang terjadi. Dan kenapa ayah melakukan ini.

“Hati-hati ya di rumah. Jangan nakal. Sekolah yang pinter, belajar yang rajin.”

Mendengar ayah memberikan pesan-pesannya, aku dan adik hanya diam, tak tahu harus bicara apa. Sampai akhirnya ayah berkata, “Ayah mau pergi ke Jawa. Jangan lupakan ayah ya. Nanti kalau kamu dan adik sudah dewasa, kalian bisa mengunjungi ayah kesana. Sampai jumpa….” Setelah selesai bicara, ayah pergi dengan terpincang dan melambaikan tangannya. Aku dan adik membalas lambaian itu sambil meneteskan air mata.

Aku tak paham dengan semua yang ayah katakan, tapi yang aku tahu, ayah pergi meninggalkan kami. Iya, aku, adik, ibuku dan kenangan kami.

Kesedihan ini semakin terasa karena baru beberapa minggu ayah pulang dari perantauannya.

Ayah pulang dengan keadaan yang menyedihkan. Beliau tak bisa jalan karena kakinya patah. Ayah dilukai oleh beberapa orang yang sedang berusaha untuk merampok rumah tempat tinggalnya di perantauan. Karena keadaan ayah yang parah dan di perantauan itu ayah hanya tinggal dengan beberapa orang temannya, daripada menyusahkan teman-temannya akhirnya ayah memutuskan untuk pulang ke rumah. Berharap bisa dirawat oleh kami sebagai keluarganya.

Tapi entah kenapa, sejak ayah pulang, ibu jarang bertegur sapa dengan ayah. Ibu juga masih tetap seperti biasa, jarang di rumah seperti saat ayah di perantauan. Entah sebenarnya apa yang dilakukan ibu di luar sana. Yang jelas, sejak pergi di siang hari dengan berdandan rapi, membawa tas yang isinya kaos dan celana pendek yang ketat sekilas seperti pakaian olahraga, ibu baru pulang saat tengah malam menjelang. Aku tahu isi dari tas ibu karena aku sering menunggui ibu saat dandan dan merengek meminta agar ibu tidak pergi. Tapi rengekanku itu tak berarti apa-apa bagi ibuku. Karena tiap hari ibu pun selalu pergi dengan rutinitasnya itu.

Karena ibu tak pernah di rumah, jadi hanya aku dan adik yang selalu menemani ayah. Dengan segala macam leluconannya, ayah selalu menghibur kami. Suasana sangat menyenangkan bersama ayah. Tapi alangkah lebih menyenangkannya jika ibu juga ada disini bersama kami.

Setelah kepergian ayah, tiap hari aku dan adik secara bergantian bertanya kepada ibu. Pertanyaan yang terus berulang tiap hari. Apa yang sebenarnya terjadi, kenapa ayah pergi dan kapan ayah kembali? Itulah pertanyaan yang selalu rajin kami tanyakan. Tapi pertanyaan itu tak kunjung ada jawabnya. Sampai akhirnya aku dan adik mulai capek untuk menanyakannya. Dan tak tahu harus ke siapa lagi, karena ibu melarang kami bergaul dengan tetangga dan keluarga yang lain. Beberapa kali kami pernah mencoba untuk bertanya ke keluarga atau tetangga. Tapi mereka malah menjelek-jelekkan ibu. Mereka bilang ibu bukanlah istri yang baik. Hanya untuk memperoleh informasi semacam itu, kami harus membayarnya dengan mendapat pukulan dari ibu.

Tapi pada akhirnya kesabaran kami berbuah hasil. Saat aku menginjak SMA, ibu bercerita tentang ayah. Ibu bercerita bahwa ayah menceraikan ibu karena sudah tidak mencintai ibu. Hanya itu yang ibu ceritakan.

Sering aku bertanya dalam hati, kenapa ayah begitu tega menceraikan ibu? Kenapa juga ayah tidak mencintai ibu lagi? Apakah karena ibu tak secantik wanita-wanita di luar sana? Kalau memang itu alasannya, betapa bejat dan piciknya ayahku. Apalagi sejak pergi dari rumah, ayah tak pernah menghubungi kami maupun menjenguk kami.

oooo0000oooo

Sinar mentari pagi yang menerobos masuk ke dalam kamar sehingga membangunkan tidurku. Oh tidak, jam berapa ini? Samar-samar aku lihat jam dinding menunjukkan pukul 8 pagi. Aku masih kurang percaya, aku gosok mataku agar bisa melihat lebih jelas. Benar, ini jam 8 pagi. Mungkin aku terlalu capek hingga tidur sampai lupa waktu. Segera aku beranjak dari tempat tidurku dan keluar dari kamar. Di luar ada beberapa orang sudah menungguiku diruang makan. Aku hanya bisa tersenyum pada mereka. Terlihat seorang nenek dan kakek yang sudah renta. Mungkin itu nenek dan kakekku. Terlihat juga Tante Rike serta seorang perempuan lebih tua dari Tante Rike yang kemungkinan besar dia adalah Tante Tina adik dari seorang pria yang saat ini tidak aku akui sebagai ayah. Seorang pria separuh baya. Mungkin itu Om Hendi suami dari Tante Tina. Di sana ada juga seorang gadis cantik yang kira-kira umurnya beberapa tahun lebih muda dari aku, mungkin itu Ria anak dari Tante Tina dan Om Hendi. Tak lupa, di sana juga ada pria itu, pria yang membuat darahku mendidih saat melihatnya.

Tante Rike langsung menyambut kehadiranku dan menuntunku ke kamar mandi, seakan-akan dia selalu bisa membaca dengan jelas apa yang ada dalam pikiranku.

Setelah mandi, mereka meminta aku untuk makan bersama. Mereka makan sambil sesekali bersenda gurau. Sungguh menyenangkan suasana di keluarga ini. Entah sudah berapa lama aku tak merasakan hangatnya keluarga seperti yang aku rasakan sekarang. Selama ini hanya aku, adik dan ibu yang tinggal di rumah. Suasana selalu sunyi, karena ibu tak pernah membolehkan kami bersenda gurau saat makan. Aku membayangkan alangkah indahnya hidup ini jika keluargaku seperti ini. Tapi itu hanyalah impianku saja, karena kenyataannya aku tak pernah merasakannya sejak ayah pergi merantau dan ibu selalu sibuk dengan kegiatannya.

Aku benar-benar menikmati suasana yang ada di rumah ini. Sampai akhirnya semua orang mulai meninggalkan meja makan satu per satu dan pergi. Aku tak tahu apa yang harus aku lakukan. Aku menuju ke ruang keluarga, duduk di sofa dan menyalakan televisi. Tiba-tiba pria yang tidak lain adalah ayahku itu datang menghampiriku, dia duduk didekatku dan memegang pundakku. Dia tersenyum dan mulai berkata.

“Tolong dengarkan ayah, dan jangan memotong cerita ayah sebelum selesai. Mungkin selama ini kamu hanya mendengar cerita dari ibumu saja kenapa ayah pergi. Jadi biarkan ayah juga menjelaskan alasan kenapa ayah pergi.”

Saat itu aku hanya diam. Mencoba untuk membuka hati dan mendengarkan cerita pria yang ada di dekatku.

oooo0000oooo

“Kenapa engkau selalu memaksa aku untuk menikahi gadis itu?”, tanya Pri.

“Apa salahnya jika kau menikahinya? Toh dia juga masih gadis, dia juga wanita baik-baik. Tak ada alasan bagimu untuk tidak mencintainya. Lagian, apa yang bisa kamu banggakan? Kamu sudah tua, kakimu pincang, seharusnya kamu merasa beruntung bisa menikahi gadis seperti Heni”, jawab Maya yang tak mau kalah.

“Apa maksudmu?”

“Aku tak ada maksud apa-apa. Aku hanya ingin kamu menikahi Heni, titik.”

“Kenapa kamu ingin suamimu ini menikah lagi?”

“Apa ada yang salah jika aku menyuruh suamiku berpoligami? Bukankah poligami juga diperbolehkan dalam agama?”

“Jika memang aku punya niat untuk poligami, aku akan memilih sendiri wanita yang ingin aku nikahi. Tapi demi Tuhan, aku tak ada niat untuk poligami.”

“Terserah, kamu mau bilang apa. Nikahi gadis itu, atau kau ceraikan aku.”

“Ngomong apa kamu ini? Cabut kata-katamu itu. Berpikirlah dulu sebelum kau mengucapkannya.”

“Aku sudah memikirkannya baik-baik. Jika kamu tidak mau menikahi gadis itu, lebih baik kau ceraikan aku.”

Maya pergi meninggalkan Pri dengan wajah sewot.

Setelah pertengkaran itu, Pri dan Maya tak lagi bertegur sapa. Sampai akhirnya suatu malam, pertengkaran pecah lagi diantara mereka.

“Sekarang kamu harus memutuskan, nikahi Heni atau ceraikan aku!”, suara Maya yang terdengar jelas ditengah heningnya malam.

“Kenapa kau selalu memojokkan aku? Aku akan tetap berusaha untuk mempertahankan keluarga ini. Tapi aku tak akan mau menikah dengan Heni. Apapun yang terjadi. Karena aku tak mau mempermainkan dia, menikahinya hanya karena kamu paksa. Andai kata aku menikahinya, belum tentu aku bisa membahagiakan dia. Menikahinya, sama halnya dengan melakukan sebuah kesalahan.”

“Jadi kamu lebih memilih untuk menceraikan aku daripada harus menikahi Heni?”

“Demi Tuhan, aku tak ingin melakukannya. Tolong kamu pikirkan lagi.”

“Tidak ada yang perlu dipikirkan lagi, ceraikan aku!”

“Apa tidak ada cara lain untuk mempertahankan keluarga ini?”

“Tidak!”

“Sungguh dengan berberat hati, jika memang itu maumu, aku akan mengabulkannya. Tak ada gunanya aku mempertahankan istri yang tak lagi menginginkan aku.”

“Terimakasih kau telah mengabulkannya. Tapi aku punya satu permohonan, tolong jangan kau bawa anak-anak jika kau pergi.”

“Asal kau tak akan pernah mensia-siakan mereka..”, kata Pri lirih.

oooo0000oooo

Pri yang tak lain adalah ayahku terus bercerita. Persis apa yang diceritakan tetangga dan keluargaku di Medan. Aku tak mampu menahan air mataku. Aku memeluk ayahku dan menangis dalam dekapannya.

“Lalu kenapa ayah tak pernah menjengukku?”

“Ayah sering datang ke rumah, tapi ibumu selalu bilang kalian sudah tidur dan tak pernah mengijinkan aku untuk melihat wajah kalian saat tidur barang sejenak.”

“Kalau tak bisa menemuiku, kenapa ayah tak mencoba untuk menelepon kami?”

“Tiap kali aku telepon, ibumu yang mengangkat. Dia bilang kalau dia sedang tidak di rumah. Selama ini ayah hanya bisa menunggu dan berharap kalian mau menelpon ayah.”

“Mana bisa ayah berbuat seperti itu? Bagaimana kami bisa telepon ayah, jika kami saja tak punya nomor ayah. Kenapa tidak dari dulu ayah mengundang aku untuk datang kesini?”

“Ayah sudah lama mengundangmu. Tapi kakek dan nenekmu bilang, kalau mereka belum bisa menyampaikannya pada kalian. Sudahlah, yang penting sekarang ini kamu sudah tahu yang sebenarnya terjadi.”

“Maafkan aku ayah….”, mereka saling berpelukan dengan erat. Tangis mereka meledak Tangis kebahagiaan dua orang yang selama ini terpisahkan oleh keadaan.

~oooo0000oooo~