HARI SABTU. “Tolong anterin aku pulang ya… Sekalian ntar aku kenalin ma ortuku….”, pinta Indah pada Iwan lewat telephon.
“Sorry, aku ga bisa nganterin kamu pulang. Aku harus bersih-bersih rumah.”
“Ayolah, please… Badanku lemes banget neh….”, rengek Indah.
“Lain kali aja ya sayang… Nanti kamu pulang naik bus aja. Masalah biaya, nanti aku ganti deh…”, jawab Iwan.
Mungkin itu adalah permintaan yang kesekian kalinya Indah agar Iwan mau mengantarnya pulang. Tapi meskipun sudah berpacaran 10 bulan, Iwan belum pernah mau memperkenalkan dirinya pada keluarga Indah.
Pagi yang mendung, hujan rintik-rintik mulai membasahi kota. Indah keluar dari kost naik angkutan kota menuju ke terminal dengan malas. Sampai di terminal, bus sudah siap mau berangkat. Indah berlari mengejar bus, sampai akhirnya supir menghentikan busnya dan mempersilahkan Indah masuk.
Sepanjang perjalanan Indah hanya diam. Indah hanya berfikir, kenapa Iwan tidak pernah mau mengantarkan pulang. Selalu ada alasan untuk menolak permintaannya. Iwan juga tega membiarkan Indah pulang sendirian meski dalam keadaan sakit seperti sekarang ini.
Tiba-tiba badan Indah gemetar, keringat mulai membasahi tubuhnya. Kulitnya yang putih terlihat pucat.
“Aku harus kuat, aku tidak boleh kalah dari penyakit ini”, gumam Indah.
Setelah menempuh perjalanan sekitar 1 jam, sampailah di kota yang Indah tuju. Kota tempat orangtuanya tinggal.
“Kiri Pak!”, seru indah.
Sopir bus pun mulai mengurangi kecepatannya dan menepi.
Indah turun dari bus dengan badan lemas.
“Ayo, kamu harus kuat Indah, sebentar lagi sampai rumah”, lirih Indah memberi semangat pada dirinya sendiri.
Setelah turun dari bus, Indah menyeberang jalan dan hendak mencari angkutan kota untuk menuju ke rumahnya.
Indah menengok ke arah kanan – kiri untuk memastikan bahwa dirinya aman untuk menyeberang. Setelah terlihat sepi, Indah mulai melintasi jalan. Tapi sial, kakinya lemas dan tak mampu lagi menopang tubuhnya. Indah pun terjatuh.
“NGENGGG!!!”, suara sepeda motor ngebut melintas dijalanan itu tak lama setelah indah terjatuh.

“Halo, Iwan”, suara Putri, teman Indah.
“Iya, ada apa put?”, jawab Iwan di telepon.
“Iwan, kamu dimana sekarang? Sudah di rumah Indah ya? Jam berapa kamu berangkat, dengan siapa aja?”, tanya Putri tanpa memberi kesempatan pada Iwan untuk menjawab.
“Aku sekarang dirumah, lagi bersih-bersih rumah. Males aku ke rumah Indah, jadi orang kok ga pernah mandiri. Pulang aja selalu minta diantar. Padahal berangkat sendiri juga bisa”, jawab Iwan dengan nada rada jengkel.
“Maksudmu?”, tanya Putri bingung. “Kamu ngga ke rumah Indah? Kamu ngga ingin melihat Indah keadaan Indah?”, Putri meneruskan.
“Apa maksudmu put?”, Iwan bingung.
“Jadi kamu belum dengar beritanya ya? Iwan, Indah kecelakaan saat perjalanan pulang.”, suara Putri lirih.
“Hey, jangan main-main put. Kamu ngga usah sekongkol sama Indah buat ngerjai aku” , Iwan yang sebel dengar berita dari Putri, dan menganggap semua itu hanya gurauan belaka agar Iwan merasa bersalah.
“Aku beneran Iwan, tadi temen kerja Indah datang ke kost dan memberi tahu kabar itu. Aku kira kamu sudah ditelepon sama keluarga Indah”, suara Putri yang semakin lirih, menahan isak tangis.
Badan Iwan gemetar mendengar berita itu, badannya lemas dan tak bisa berkata apa-apa.
“Halo, Iwan! Iwan! Kamu masih disitu? Iwan!”, Putri berteriak-teriak setelah beberapa saat Iwan di seberang sana  tak menjawab apa-apa.
“Iya put, kamu tahu rumah Indah? Anterin aku kesana ya….”, pinta Iwan dengan suara gemetar.
“Aku juga belum tahu rumahnya wan. Aku kira kamu sudah tahu. Lagian kalian sudah lama pacaran, masa belum tahu rumahnya”, kata Putri.
“Aku tak  pernah tanya alamatnya Put. Kamu ngga tanya ke temannya yang ngasih kabar ke kos?”
“Aku sudah tanya wan, tapi temennya juga belum tahu rumahnya. Lagian ini hari Sabtu, kantor tempat Indah kerja juga tutup wan. Jadi mungkin hari Senin baru bisa cari tahu alamatnya. Gimana? Kamu yang sabar ya…”
“Put, kenapa harus seperti ini? Aku kira tadi Indah hanya manja dan minta dianterin pulang. Makanya aku tak meladeninya. Aku suruh saja dia  pulang sendirian”, Iwan bercerita kejadian sesaat sebelum Indah pulang.
“Makanya wan, jadi cowok itu yang peka. Punya pacar minta dimanja ya dimanja. Lagian Indah kan jarang-jarang manja ke kamu. Indah itu anaknya mandiri. Tapi ngga salah kan kalo dia kadang pengen manja ke cowoknya?”, Putri marah ke Iwan yang selama ini cuek dengan keadaan Indah.
“Bukannya gitu put. Aku selalu melihat diriku sendiri. Aku tak pernah manja ke siap-siapa. Kemana-mana aku berangkat sendiri. Makanya aku minta Indah seperti diriku”, Iwan membela diri.
“Trus kalo dah kaya gini, kamu gimana? Apa yang bisa kamu lakuin?”, tanya Putri sambil menangis.
“Aku tak tahu put, seandainya aku tahu akan seperti ini, aku pasti mengantarnya tadi..”, suara Iwan yang mulai terisak.
“Sudahlah wan, semua tak ada gunanya, kamu yang sabar ya…”, pinta Putri.
“Iya put, makasih ya…”, jawab Iwan sambil meletakkan gagang teleponnya.

HARI SENIN. Pagi-pagi Iwan datang ke kantor tempat Indah bekerja dan menemui bagian HRD hendak menanyakan alamat Indah. Seorang cewek dengan tubuh tinggi semampai dengan kulit sawo matang datang menemui Iwan.
“Maaf, anda siapanya Indah?”, tanya cewek itu.
“Saya Iwan, pacarnya Indah”, jawab Iwan.
Cewek itu hanya melihat Iwan dengan menyipitkan mata sebelah seakan-akan tak percaya mendengar jawaban Iwan.
“Kalau memang pacarnya, kenapa anda sampai tidak tahu alamat pacar anda sendiri?”, tanya cewek itu.
“Maaf bu, ceritanya panjang. Dan saya juga ga pernah kepikiran sampai begini”, Iwan mulai bingung menjawabnya.
“Ya sudah, ini alamatnya. Semoga anda diberi kesabaran dan ketabahan”, jawab cewek itu.
“Trimakasih bu. Saya permisi dulu”, Iwan berpamitan setelah mendapatkan alamat Indah.

HARI SELASA. Saat pagi buta dan mentari belum menampakkan sinarnya, ditemani Putri dan Bima, Iwan berangkat ke rumah Indah. Bima adalah teman dekat Iwan sekaligus pacar Putri. Dengan bertanya berkali-kali, akhirnya Iwan dan teman-temannya sampai di rumah Indah.
“Tok..tok..tok!!! Permisi…”, Iwan mengetuk rumah sesuai dengan alamat yang telah diberikan HRD tempat Indah bekerja.
Rumah itu sepi. Tiba-tiba seorang wanita paruh baya keluar.
“Maaf bu, apa ini rumah Indah?”, tanya Iwan dengan sigap.
“Iya, mas siapa ya?”, tanya ibu itu.
“Saya Iwan”, jawab Iwan singkat.
“Untuk apa kamu kesini?”, tanya ibu itu dengan nada tinggi.
Iwan bingung harus menjawab apa.
“Maafkan saya bu, saya tak bermaksud untuk mengabaikan Indah. Gimana keadaan Indah?”, tanya Iwan lagi.
Ibu itu tiba-tiba menangis dan meninggalkan Iwan beserta Putri dan Bima di depan rumah tanpa mempersilahkan mereka masuk.
Iwan bingung, ada apa sebenarnya. Iwan mulai berfikir yang bukan-bukan.
Tiba-tiba seorang laki-laki tua keluar dari rumah.
“Kamu Iwan?”, tanya laki-laki itu tegas. “Dimana tanggung jawabmu sebagai pacarnya Indah?” orang tua itu melanjutkan.
“Sungguh, maafkan saya pak. Saya…”
“Sudahlah, silahkan anda pulang” pria itu memotong.
“Tapi pak, saya ingin bertemu Indah. Saya sangat menyesal dengan kejadian ini. Saya mohon pak, beri saya kesempatan untuk menemui Indah”, pinta Iwan.
“Kamu serius ingin bertemu dengannya. Lalu apa yang akan kamu lakukan setelah melihat keadaan Indah? Apa kamu bisa menerima keadaan Indah?”, pria itu bertanya dan memastikan bahwa Iwan benar-benar serius mencintai Indah.
“Iya pak, saya serius ingin bertemu Indah. Apapun yang terjadi, saya akan menerima Indah apa adanya. Saya akan menyayangi Indah dan memperlakukan dia dengan sebaik-baiknya”, jawab Iwan meyakinkan.
“Ikut aku ke mobil”,kata laki-laki itu singkat dan mempersilakan Iwan, Bima dan Putri masuk ke dalam mobil.
Mobil yang mereka tumpangi melaju kencang. Iwan merasa kebingungan, mau dibawa kemana mereka bertiga. Tapi Iwan tak berani bertanya apa-apa. Iwan hanya bisa menunggu apa yang akan dilakukan laki-laki tua itu.
Tiba-tiba mobil berhenti di sebuah pemakaman. Laki-laki itu turun dan berjalan menuju ke area pemakaman. Iwan dan dua orang temannya mengikuti laki-laki itu dibelakang. Tiba-tiba laki-laki itu berhenti di sebuah makam yang belum kering tanahnya. Mungkin baru beberapa hari kuburan itu dibuat. Iwan membaca tulisan di batu nisan itu. “Indah Arini Binti Soemantri” tulisan yang tertera di batu nisan tersebut.
Badan Iwan lemas, Iwan terduduk, dia menangis memeluk batu nisan itu.
“Indah! Mengapa kau tinggalkan aku? Mengapa tak kau beri kesempatan bagiku untuk memperbaiki kesalahanku? Kenapa kau menyadarkan aku dari sifat egoisku dengan cara ini? Indah, dengan apa aku harus menebus semua kesalahanku?”, kata Iwan dengan terisak.
Tiba-tiba laki-laki itu pergi meninggalkan mereka bertiga di pemakaman dan dengan segera menjalankan mobil yang mereka tumpangi tadi. Mobil itu melesat dan menghilang diantara mobil-mobil yang lain.
Putri dan Bima hanya saling berpandangan. Mereka tak tahu harus berbuat apa.
“Sudahlah wan, tangismu hanya akan menjadi beban bagi Indah untuk menjalani hidupnya di alam sana. Relakan dia wan, meski kami tahu semua itu sangat berat bagimu”, kata Bima yang berusaha untuk menguatkan Iwan.
“Betul wan, do’akan saja semoga Indah diampuni dosa-dosanya, dan semoga diterima disisi-Nya”, Putri menambahi.
Tapi Iwan hanya menangis dan sama sekali tak menggubris kata-kata temennya.
Petang mulai menjelang, Iwan mulai tersadar dari tangisnya, berdiri dan berjalan meninggalkan makam. Saat melintas dijalan, tiba-tiba mobil melintas dan menghantam tubuh Iwan. Setelah Iwan sadar dan terbangun, seorang laki-laki muda berlumuran darah tergeletak di jalan. Orang-orang berkumpul mengerumuni tubuh laki-laki itu. Bima dan Putri memeluk tubuh laki-laki muda itu sambil menangis. Iwan hanya melihat kejadian itu. Tiba-tiba sebuah tangan menyentuh bahu Iwan. Iwan menoleh ke arah tangan itu. “Indah!”, seru Iwan melihat Indah tersenyum. Senyuman paling manis yang pernah Indah berikan pada Iwan. Mereka pun berjalan bergandengan meninggalkan kerumunan dan menghilang dikejauhan.