Tadi pagi, temenku bercerita tentang lagunya 3Diva, yang berisi tentang adil atau tidak. Karena cerita temenku itu, aku tertarik untuk mendengarkannya.  Mau tau seperti apa lirik lagu yang judulnya “Adilkah ini untukku”?

aku memilih dia bukan karena cinta padanya
aku memilih dia hanya karena kau tinggalkan aku
kau tinggalkan aku disini sendiri
aku memilih dia….

sejak kau khianatiku, dunia seolah akan runtuh
dengan memilih dia aku mencoba untuk lupakanmu
tuk melupakanmu yang menyakitiku
aku memilih dia…

adilkah ini untukku
atau cukup adilkah ini untuknya
dia yang selama ini mencintaiku
dengan tulus dan sepenuh hatinya

dosakah kini diriku
yang tak pernah membalas arti cintanya
karna cinta sejatiku telah menghilang
telah habis terbawa olehmu

dengan memilih dia aku mencoba untuk melupakanmu
yang menyakitiku
aku memilih dia…

ooOOoo

Saat aku mendengarkan, seakan aku tertohok dan teradili. Bukankah itu aku????

Memang, luka itu sudah lama terkubur, tapi bukan berarti telah sembuh ataupun hilang bekasnya. Luka itu masih ada dan membekas dalam dihatiku. Persis seperti lagu itu, cintaku pergi bersama kepergiannya. Dan semenjak itu, aku tak pernah mencintai cowok lain. Yang ada hanya perasaan sayang, kagum dan suka. Tak ada yang sampai menyentuh hatiku.

Tapi anehnya, setelah kepergiannya, aku sudah 2x menjalin hubungan meski semuanya harus kandas begitu saja.

Hubunganku yang pertama:

Hubunganku ini adalah pelarianku yang pertama. Aku menerima dia hanya karena merasa kesepian, dan aku berharap dengan menerima dia aku bisa melupakan masa laluku. Ternyata aku salah. Aku salah menerima dia karena alasan itu, dan aku salah karena memilih dia untuk menjadi pacarku. Karena dia seorang cowok yang playboy, matre dan ga modal sama sekali. Akhirnya aku pun putus dengannya.

Hubunganku yang kedua:

Hubungan ini aku jalin beberapa minggu setelah berakhirnya hubunganku yang kedua. Dengan berbagai lika-likunya akhirnya aku jadian dengan cowok yang ke-2 ini. Karena hubungan kami sangat aneh, akhirnya cowokku itu bilang : “Sebenarnya hubungan kita ini salah”. Aku mengiyakan kata-katanya, dan aku menjawabnya: “Sesuatu yang diawali dengan salah, maka akan berakhir dengan salah pula”. Saat itu aku tak tahu dia serius mengucapkannya atau tidak, tapi yang jelas waktu itu aku hanya sekedar bergurau.

Menurut dia hubungan kami salah karena sebelum aku menerima dia, aku pernah menolaknya. Hanya karena aku belum siap terluka dan sebenarnya aku tak mencintai dia. Tapi aku ingat pepatah jawa: “Witing tresno jalaran soko kulino” (Cinta akan tumbuh karena terbiasa). Akhirnya aku mengabaikan perasaanku, perasaan yang tanpa cinta itu, dan menerima dia saat dia mengutarakan cintanya yang ke-2. Dia bilang kepadaku kalau sebenarnya dia tak suka meminta kesempatan kedua padaku. Karena bagi dia, mengutarakan cinta itu ibarat memaku kayu. Saat mengutarakan cinta dan ditolak, itu ibarat memaku kayu tapi gagal. Saat mengutarakan cinta yang kedua, seperti memaku kayu untuk yang kedua kalinya juga. Saat itu kayu sudah ada bekas goresan, meski dipoles seperti apapun, dikayu itu tetap saja terdapat goresan. Begitu juga dengan hubungan, selalu ada cacat karena luka yang pertama. Itulah yang dimaksud kesalahan bagi dia.

Padahal dalam hati aku juga merasa bahwa hubunganku ini adalah sebuah kesalahan. Kesalahan karena sebenarnya aku tak mencintai dia. Aku hanya menyayangi dia. Sama seperti rasa sayangku ke temen-temen yang lain.

Berhubung dia adalah pacarku, maka aku harus lebih mengutamakan dia dibandingkan teman-temanku. Yang intinya, meski aku tak mencintai dia, tapi aku adalah pacarnya. Jadi aku berkewajiban untuk menjalankan tugasku untuk menjadi pacarnya. Aku yakin bisa, dan jika dia benar-benar bisa memberi kebahagiaan padaku, mungkin rasa cinta itu akan tumbuh dengan sendirinya dalam hatiku. Ternyata aku salah, saat awal pacaran memang kami merasa bahagia. Aku bukan kami yang aku maksud, karena aku tak tahu perasaannya. Tapi lama kelamaan semua berubah. Dia mulai acuh dan tak perhatian ke aku. Bukan perasaan cinta yang tumbuh, tapi perasaan marah yang semakin merajalela. Aku tak yakin kalau dia benar-benar mencintai aku. Seharusnya aku tak boleh menyalahkan dia jika memang dia tidak mencintai aku, karena aku sendiri juga tak mencintai dia. Tapi aku terlanjur sayang sama dia. Yang membedakan antara aku dan dia adalah: aku berusaha sebaik mungkin untuk menjadi pacarnya, aku lakukan apa yang seharusnya dilakukan seorang pacar ke pasangannya dan aku menuntut diperlakukan sebagai pacar oleh dia. Sedangkan dia, jika memang dia mencintai aku seperti yang dia katakan, tapi kenapa dia tak pernah berlaku seperti orang yang pacaran? Kenapa dia tak mampu memberi aku perhatian seperti yang diberikan cowok2 lain ke pasangannya? Itu yang membuat perasaan cinta itu urung hadir dalam hatiku.

Karena perhatiannya yang semakin lama semakin berkurang, itulah sebabnya aku meminta bukti kalau dia mencintai aku. Dan ternyata dia tak bisa membuktikannya. Itu adalah akhir dari hubunganku dengannya.

Selama ini aku selalu menganggap dia yang menyebabkan kami putus. Salah karena dia tak perhatian ke aku, tak pernah membahagiakan aku, tak pernah menjadi cowok yang baik untukku, tak pernah menjalankan tugas dia sebagai cowokku. Tapi hari ini, saat aku mendengar lagu 3Diva itu, akhirnya aku sadar. Meskipun aku bisa menjalankan tugasku sebagai pacar dengan baik, tapi aku bukanlah pacar yang baik. Aku tak pernah memberikan hatiku untuknya.

Apa yang harus aku lakukan?

Apakah aku harus meminta maaf padanya?

Apakah dia mau memaafkanku?

Kenapa sampai sekarang aku tak mampu mengucapkan kata maaf untuknya karena kesalahanku ini? Aku juga tak pernah menceritakan semua ini padanya. Hanya aku yang tahu perasaanku ini. Dulu memang aku sering bercerita ke temenku kalau aku sebenarnya belum mencintai dia saat menerima dia sebagai pacarku. Seiring dengan berlalunya waktu, dan semakin lamanya hubungan kami, teman2ku berfikir kalau aku sudah mulai mencintainya. Tapi mereka semua salah, sampai hubungan kami berakhir, perasaan cinta itu masih belum ada.

Sungguh ingin sekali aku menceritakan semua ini padamu, dan ingin sekali aku mengucapkan:

“MAAFKAN AKU MANTANKU…!!!!”