Aku berjalan sendirian di trotoar. Tiap hari ku hitung pohon palem di sepanjang jalan dari kostku sampai kampus. Dari pertama aku menghitungnya, tak juga berubah jumlahnya.
Tiiit!Tiiiit!!! Suara klakson sepeda motor membuyarkan konsentrasiku.
“Lisa, ayo ikut aku”, seorang cowok memanggilku dari atas sepeda motor.
“Mau kemana kak?”, tanyaku.
“Udah, ga usah banyak tanya, naik aja ke sepedaku”, jawab Kak Rendra sambil menarik tanganku.
Tanpa pikir panjang aku langsung nangkring di belakang Kak Rendra.
Aku tak terlalu ambil pusing dengan kejadian seperti ini, karena Kak Rendra sudah sering mengajak aku jalan-jalan. Kadang aku berfikir, apakah nanti jika Kak Rendra sudah punya pacar akan tetap seperti ini sikapnya ke aku. Ah sudahlah, bodo amat!!!
“Dah makan belum lis?”, tanya Kak Rendra.
“Belum kak, pengennya nanti sekalian beli. Kalau dah nyampe kost males mo keluar lagi”, jawabku enteng.
“Ya udah, kita makan aja dulu”, ajak kak Rendra.
“Ok deh kak…”, jawabku setuju.
Sepeda motor kak Rendra terus melaju dan berhenti di sebuah rumah makan tempat anak-anak kost dengan keuangan pas-pasan sering makan dan nongkrong, karena harganya yang lumayan cocok dengan kondisi mahasiswa yang tak berdompet tebal.
Kak Rendra menggandeng tanganku dan menuntunku masuk ke rumah makan tersebut serta mempersilahkan aku duduk dikursi yang terlebih dulu telah dia bersihkan.
“Ayo, mo makan apa?”, tanya kak Rendra sambil menyodorkan daftar menu ke arahku.
“Ikutan kakak aja deh”, jawabku ringan. Memang secara kebetulan selera kami hampir sama. Apa yang dia suka biasanya aku juga suka, begitu juga sebaliknya.
“Oke deh, kakak yang pilih”, jawab kak Rendra.
Sambil menunggu pesanan kami datang, kak Rendra terus bercerita.
“Iya, ayahmu kapan kesini? Aku dah nyiapin kamar lho. Apa kamu aja yang nempatin dulu sebelum ayahmu datang?”, tanya kak Rendra kepadaku.
“Masih lama kok kak, tenang aja. Kakak tempatin sendiri aja. Ngapain aku tinggal disitu, kan enakan kamarku, kasurnya empuk, suasananya sepi, lingkungannya bersih. Ga kaya tempat kakak, kotor, sempit, kasurnya dah keras kaya batu”, jawabku sekenanya.
“Ye… biar gitu tempat itu nanti juga bakal jadi tempatmu. Kamu kan calon istriku”, goda Kak Rendra.
“Sapa yang mau sama Kak Rendra, playboy gitu kok, males ah, ntar sakit ati terus”, jawabku menimpali. Aku berkata seperti itu bukan tanpa dasar. Memang kak Rendra paling suka godain cewek-cewek. Dimana-mana banyak kenalan cewek cantik. Bahkan tak jarang dia mengajakku main ke rumah cewek-cewek yang jadi kecengannya dan memperkenalkan aku sebagai ceweknya. Apa neh maksudnya??? Tau ah!!!
Pernah aku bertanya ke Kak Rendra, kenapa dia tak pernah memilih satu dari sekian cewek yang telah dia deketin. Jawabnya singkat, belum ada yang cocok. Kriteria cewek yang dia inginkan adalah cewek berjilbab, ga terlalu tinggi tapi juga ga pendek, kurus biar nanti waktu sudah punya anak badannya ga gembrot, tidak cantik tapi juga tidak jelek. Kriteria itu persis seperti diriku.
Akhirnya pesanan kami datang. Kami melahap makanan yang telah tersedia. Kak Rendra makan seperti orang yang sedang kelaparan. Makanan dia habiskan dengan secepat kilat.
“Ayo cepat habisin, biar gemuk”, katanya.
Melihat makanku masih banyak dan makanannya telah lenyap, tanpa banyak ngomong dia langsung nimbrung makan di piringku.
“Biar cepet selesai”, katanya tanpa basa-basi.
“Ayo, temenin aku ke toko sepatu. Mau beliin sepatu buat keponakan”, ajaknya setelah menghabiskan porsiku.
“Kok keponakan terus sih, kapan aku dibeliin juga?”, tanyaku.
“Beres, kamu mau sepatu yang model gimana aja aku beliin kok. Pengen yang gimana, model sepatu sapi, sepatu kuda apa sepatu badut?”, katanya menggodaku.
“Dasar kakak ini”, jawabku merajuk.
Setelah 1 jam lebih memilih-milih sepatu yang cocok buat keponakan Kak Rendra, kami pun pulang.
Sampai dijalan….
“Lis, kamu ga laper? Ayo makan”, kak Rendra mengajak aku makan. Sepertinya memang kak Rendra sudah kelaparan.
“Ogah ah, ntar gemuk”, jawabku singkat.
“Beneran ga mau, ya udah, kita langsung pulang aja ya….”, ajaknya.
“Ok deh…”, sahutku.
Sepeda motor terus melaju. Sampai di depan kost, Kak Rendra menghentikan motornya.
“Makasih ya Lis dah mau nemenin kakak.”
“Sama-sama kak, makasih juga untuk makannya”, jawabku sambil berlalu.
“Lis, tunggu!”, cegah kak Rendra.
“Ada apa kak?”, tanyaku penasaran.
“Ini hadiah buat pacar tercantikku”, katanya sambil mengeluarkan cokelat.
“Makasih kak, sering-sering ya…”, ucapku sambil cengengesan.
Kak Rendra langsung menggeber sepedanya dan meninggalkanku.
Aku mengenal Kak Rendra 2 tahun yang lalu. Saat itu aku masih menjadi maba di salah satu Universitas Negeri, dan Kak Rendra adalah seniorku, bahkan senior banget di kampusku. Kak Rendra sering melihatiku dari ujung kaki sampai ujung jilbabku ketika bertemu. Sampai akhirnya dia memberanikan diri mengajak aku kenalan. Dia bercerita kalau dia kaget ketika melihat aku pertama kali. Katanya wajahku mengingatkan aku pada mantan pacarnya yang mirip dengan adik kandungnya yang kebetulan mantan pacarnya itu satu daerah sama aku. Selama 2 tahun itu, dia selalu meneleponku, berkunjung ke kostku, membawakan aku makan ketika dia tahu aku belum makan, memperkenalkan aku sebagai pacarnya pada temen-temennya. Lama-kelamaan benih cintapun muncul dihatiku. Aku mulai menyukai Kak Rendra. Tapi aku tak pernah mau mengatakan ke Kak Rendra. Aku selalu menyembunyikan perasaan itu.
Meskipun selalu memperkenalkan aku sebagai pacarnya ke temen-temennya, Kak Rendra tak pernah mengatakan kalau dia menyukai aku apalagi mencintai aku. Dia pernah bermaksud memperkenalkan aku pada keluarganya, tapi dia tak memberi tahu aku diperkenalkan ke keluarganya sebagai siapanya dia. Akhirnya aku pun menolaknya. Aku sudah puas selalu bersamanya meski tanpa setatus apa-apa.
“Lis, yuk nge-date”, kata Kak Rendra lewat telepon malam itu.
“Males ah, gi capek, habis ngerjain tugas”, jawabku menolak ajakan Kak Rendra.
“Ayolah sayang. Abang kangen sama kamu. Mau ya??”, rayu kak Rendra.
“Ya udah, aku mandi dulu, jemput setengah jam lagi”, jawabku yang selalu tak bisa menolak ajakan kak Rendra.
“Ok deh cinta….”, jawabnya menyetujui.
Tepat setengah jam, sebuah sepeda motor terparkir di depan kost. Seorang laki-laki tinggi, badan tegap, kulit putih dengan pakaian rapi turun dari sepeda motor berjalan menghampiriku. Alamak… cakep banget wajahnya.
“Sudah siap lis?”, sapa dia membuyarkan lamunanku yang tertegun melihat penampilannya.
“Iya, kak. Sudah siap”, jawabku tergopoh.
Dia menggandeng tanganku menuju ke sepeda motornya. Aku naik di sepeda motor dan kak Rendra langsung menggebernya.
Sampai di sebuah mall dia memarkirkan sepedanya.
“Ayo lis, kita masuk”, ajaknya sambil menggandeng tanganku.
“Yohana!”, teriak Kak Rendra.
“Hei!”, jawab seorang cewek berjilbab pink. Wajahnya cantik, kulitnya putih bersih, badannya sedikit gemuk, tapi sama sekali tidak mengurangi aura kecantikannya.
“Yo, kenalin ini Lisa, yang sering aku ceritain.”, Kak Rendra memperkenalkan aku pada Yohana.
“Lis, kenalin ini Yohana, tunanganku”, kata Kak Rendra memperkenalkan gadis yang baru saja kami temui. Sebuah kalimat yang membuat darahku berhenti mengalir. Jantungku berdetak kencang. Aku tak tahu harus berbuat apa. Aku terpaku memandangi gadis itu.
Kuulurkan tanganku, kupaksakan senyum menghiasi bibirku.
“Yohana ini pacar kakak sejak SMA dulu Lis. Setalah lulus kami langsung bertunangan, sebagai pengikat hubungan. Apalagi kami kuliah di kota yang berbeda. Dia takut kalo aku disamber orang katanya”, canda Kak Rendra sambil mencubit pipi Yohana.
Aku hanya bisa diam, aku tak menimpali kata-katanya sama sekali.
“Tuhan, kuatkan aku”, kataku lirih dalam hati.
“Oh iya kak, aku lupa. Aku tadi kan ada janji sama temenku. Daripada temenku marah, mending aku pulang dulu ya….”, pintaku.
“Lho kok buru-buru sih, kan baru aja datang”, kata Yohana.
“Habisnya kak, tadi aku lupa kalo ada janji.”, kataku berusaha meyakinkan.
Melihat ekspresi diwajahku, kak Rendra langsung menolongku.
“Ya udah, kalau gitu kakak antar kamu pulang aja ya. Ga apa-apa kan Yo?”, kata Kak Rendra.
“Oh, ya udah deh… Hati-hati ya…”, Yohana menyetujui.
“Ok deh kak Yo, hati-hati juga ya…”, kataku sambil meninggalkan Yohana.
Kak Rendra mengikutiku dan berusaha untuk meraih tanganku. Aku hempaskan tangannya yang barus aja menyentuhku.
“Lis, tunggu dulu lis…”, pintanya.
“Ada apa sih kak?”, tanyaku berpura-pura .
“Kamu kenapa lis? Kakak salah apa lis?”, tanya Kak Rendra.
“Kakak ga salah. Aku yang salah kak!”, jawabku menahan emosi.
“Kamu salah apa lis, ngomong dong sama Kakak”, seakan tidak tahu.
“Sudahlah kak, jangan pura-pura”, teriakku.
“Apa maksudmu lis, ngomong yang jelas!”, kak Rendra menimpali.
“Aku telah salah menilai kakak. Kenapa kakak tak pernah cerita tentang Kak Yohana?”, tanyaku sambil berteriak.
“Maafkan Kakak lis. Kakak tak tahu harus dimulai darimana untuk menceritakan tentang Yohana.”
“Tapi akhirnya kakak bisa kan bercerita tentang Kak Yohana sekarang?”
“Iya Lis, Kakak bisa, tapi berat lis… Kakak tahu jika akan berakhir seperti ini. Kakak tahu semua ini akan menyakitimu Lis. Kakak tahu kalau kamu suka sama Kakak. Tapi kakak harus memilih lis… Dan pilihan kakak jatuh pada Yohana. Tunangan Kakak.”
“Iya kak, aku sadar, kakak terlalu tinggi bagiku. Aku tahu, kakak selama ini hanya menganggapku sebagai adik. Aku tahu kalau kakak tak akan pernah menjadi pacarku.”
“Bukan begitu lisa, kakak juga mencintaimu. Tapi kakak sudah punya tunangan. Kakak tak mungkin mengecewakan keluarga Kakak, apalagi keluarga Yohana. Lisa, jadilah adikku tersayang, meskipun kamu tak bisa jadi pacarku tersayang”, Kak Rendra menangis sambil memelukku.
“Mau kan Lis..”, pinta kak Rendra sambil memohon.
“Aku akan berusaha kak, meskipun berat bagiku kak”, jawabku.
“Aku tahu lis, meski aku bukan pacarmu, tapi kamu masih bisa memilikiku sebagai kakakmu.”
Aku menangis dalam pelukan Kak Rendra, orang yang selama ini aku cintai, orang yang hanya ingin menjadi kakakku bukan pacarku.