Cerita


Aku berjalan sendirian di trotoar. Tiap hari ku hitung pohon palem di sepanjang jalan dari kostku sampai kampus. Dari pertama aku menghitungnya, tak juga berubah jumlahnya.
Tiiit!Tiiiit!!! Suara klakson sepeda motor membuyarkan konsentrasiku.
“Lisa, ayo ikut aku”, seorang cowok memanggilku dari atas sepeda motor.
“Mau kemana kak?”, tanyaku.
“Udah, ga usah banyak tanya, naik aja ke sepedaku”, jawab Kak Rendra sambil menarik tanganku.
Tanpa pikir panjang aku langsung nangkring di belakang Kak Rendra.
Aku tak terlalu ambil pusing dengan kejadian seperti ini, karena Kak Rendra sudah sering mengajak aku jalan-jalan. Kadang aku berfikir, apakah nanti jika Kak Rendra sudah punya pacar akan tetap seperti ini sikapnya ke aku. Ah sudahlah, bodo amat!!!
“Dah makan belum lis?”, tanya Kak Rendra.
“Belum kak, pengennya nanti sekalian beli. Kalau dah nyampe kost males mo keluar lagi”, jawabku enteng.
“Ya udah, kita makan aja dulu”, ajak kak Rendra.
“Ok deh kak…”, jawabku setuju.
Sepeda motor kak Rendra terus melaju dan berhenti di sebuah rumah makan tempat anak-anak kost dengan keuangan pas-pasan sering makan dan nongkrong, karena harganya yang lumayan cocok dengan kondisi mahasiswa yang tak berdompet tebal.
Kak Rendra menggandeng tanganku dan menuntunku masuk ke rumah makan tersebut serta mempersilahkan aku duduk dikursi yang terlebih dulu telah dia bersihkan.
“Ayo, mo makan apa?”, tanya kak Rendra sambil menyodorkan daftar menu ke arahku.
“Ikutan kakak aja deh”, jawabku ringan. Memang secara kebetulan selera kami hampir sama. Apa yang dia suka biasanya aku juga suka, begitu juga sebaliknya.
“Oke deh, kakak yang pilih”, jawab kak Rendra.
Sambil menunggu pesanan kami datang, kak Rendra terus bercerita.
“Iya, ayahmu kapan kesini? Aku dah nyiapin kamar lho. Apa kamu aja yang nempatin dulu sebelum ayahmu datang?”, tanya kak Rendra kepadaku.
“Masih lama kok kak, tenang aja. Kakak tempatin sendiri aja. Ngapain aku tinggal disitu, kan enakan kamarku, kasurnya empuk, suasananya sepi, lingkungannya bersih. Ga kaya tempat kakak, kotor, sempit, kasurnya dah keras kaya batu”, jawabku sekenanya.
“Ye… biar gitu tempat itu nanti juga bakal jadi tempatmu. Kamu kan calon istriku”, goda Kak Rendra.
“Sapa yang mau sama Kak Rendra, playboy gitu kok, males ah, ntar sakit ati terus”, jawabku menimpali. Aku berkata seperti itu bukan tanpa dasar. Memang kak Rendra paling suka godain cewek-cewek. Dimana-mana banyak kenalan cewek cantik. Bahkan tak jarang dia mengajakku main ke rumah cewek-cewek yang jadi kecengannya dan memperkenalkan aku sebagai ceweknya. Apa neh maksudnya??? Tau ah!!!
Pernah aku bertanya ke Kak Rendra, kenapa dia tak pernah memilih satu dari sekian cewek yang telah dia deketin. Jawabnya singkat, belum ada yang cocok. Kriteria cewek yang dia inginkan adalah cewek berjilbab, ga terlalu tinggi tapi juga ga pendek, kurus biar nanti waktu sudah punya anak badannya ga gembrot, tidak cantik tapi juga tidak jelek. Kriteria itu persis seperti diriku.
Akhirnya pesanan kami datang. Kami melahap makanan yang telah tersedia. Kak Rendra makan seperti orang yang sedang kelaparan. Makanan dia habiskan dengan secepat kilat.
“Ayo cepat habisin, biar gemuk”, katanya.
Melihat makanku masih banyak dan makanannya telah lenyap, tanpa banyak ngomong dia langsung nimbrung makan di piringku.
“Biar cepet selesai”, katanya tanpa basa-basi.
“Ayo, temenin aku ke toko sepatu. Mau beliin sepatu buat keponakan”, ajaknya setelah menghabiskan porsiku.
“Kok keponakan terus sih, kapan aku dibeliin juga?”, tanyaku.
“Beres, kamu mau sepatu yang model gimana aja aku beliin kok. Pengen yang gimana, model sepatu sapi, sepatu kuda apa sepatu badut?”, katanya menggodaku.
“Dasar kakak ini”, jawabku merajuk.
Setelah 1 jam lebih memilih-milih sepatu yang cocok buat keponakan Kak Rendra, kami pun pulang.
Sampai dijalan….
“Lis, kamu ga laper? Ayo makan”, kak Rendra mengajak aku makan. Sepertinya memang kak Rendra sudah kelaparan.
“Ogah ah, ntar gemuk”, jawabku singkat.
“Beneran ga mau, ya udah, kita langsung pulang aja ya….”, ajaknya.
“Ok deh…”, sahutku.
Sepeda motor terus melaju. Sampai di depan kost, Kak Rendra menghentikan motornya.
“Makasih ya Lis dah mau nemenin kakak.”
“Sama-sama kak, makasih juga untuk makannya”, jawabku sambil berlalu.
“Lis, tunggu!”, cegah kak Rendra.
“Ada apa kak?”, tanyaku penasaran.
“Ini hadiah buat pacar tercantikku”, katanya sambil mengeluarkan cokelat.
“Makasih kak, sering-sering ya…”, ucapku sambil cengengesan.
Kak Rendra langsung menggeber sepedanya dan meninggalkanku.

Aku mengenal Kak Rendra 2 tahun yang lalu. Saat itu aku masih menjadi maba di salah satu Universitas Negeri, dan Kak Rendra adalah seniorku, bahkan senior banget di kampusku. Kak Rendra sering melihatiku dari ujung kaki sampai ujung jilbabku ketika bertemu. Sampai akhirnya dia memberanikan diri mengajak aku kenalan. Dia bercerita kalau dia kaget ketika melihat aku pertama kali. Katanya wajahku mengingatkan aku pada mantan pacarnya yang mirip dengan adik kandungnya yang kebetulan mantan pacarnya itu satu daerah sama aku. Selama 2 tahun itu, dia selalu meneleponku, berkunjung ke kostku, membawakan aku makan ketika dia tahu aku belum makan, memperkenalkan aku sebagai pacarnya pada temen-temennya. Lama-kelamaan benih cintapun muncul dihatiku. Aku mulai menyukai Kak Rendra. Tapi aku tak pernah mau mengatakan ke Kak Rendra. Aku selalu menyembunyikan perasaan itu.
Meskipun selalu memperkenalkan aku sebagai pacarnya ke temen-temennya, Kak Rendra tak pernah mengatakan kalau dia menyukai aku apalagi mencintai aku. Dia pernah bermaksud memperkenalkan aku pada keluarganya, tapi dia tak memberi tahu aku diperkenalkan ke keluarganya sebagai siapanya dia. Akhirnya aku pun menolaknya. Aku sudah puas selalu bersamanya meski tanpa setatus apa-apa.

“Lis, yuk nge-date”, kata Kak Rendra lewat telepon malam itu.
“Males ah, gi capek, habis ngerjain tugas”, jawabku menolak ajakan Kak Rendra.
“Ayolah sayang. Abang kangen sama kamu. Mau ya??”, rayu kak Rendra.
“Ya udah, aku mandi dulu, jemput setengah jam lagi”, jawabku yang selalu tak bisa menolak ajakan kak Rendra.
“Ok deh cinta….”, jawabnya menyetujui.
Tepat setengah jam, sebuah sepeda motor terparkir di depan kost. Seorang laki-laki tinggi, badan tegap, kulit putih dengan pakaian rapi turun dari sepeda motor berjalan menghampiriku. Alamak… cakep banget wajahnya.
“Sudah siap lis?”, sapa dia membuyarkan lamunanku yang tertegun melihat penampilannya.
“Iya, kak. Sudah siap”, jawabku tergopoh.
Dia menggandeng tanganku menuju ke sepeda motornya. Aku naik di sepeda motor dan kak Rendra langsung menggebernya.
Sampai di sebuah mall dia memarkirkan sepedanya.
“Ayo lis, kita masuk”, ajaknya sambil menggandeng tanganku.
“Yohana!”, teriak Kak Rendra.
“Hei!”, jawab seorang cewek berjilbab pink. Wajahnya cantik, kulitnya putih bersih, badannya sedikit gemuk, tapi sama sekali tidak mengurangi aura kecantikannya.
“Yo, kenalin ini Lisa, yang sering aku ceritain.”, Kak Rendra memperkenalkan aku pada Yohana.
“Lis, kenalin ini Yohana, tunanganku”, kata Kak Rendra memperkenalkan gadis yang baru saja kami temui. Sebuah kalimat yang membuat darahku berhenti mengalir. Jantungku berdetak kencang. Aku tak tahu harus berbuat apa. Aku terpaku memandangi gadis itu.
Kuulurkan tanganku, kupaksakan senyum menghiasi bibirku.
“Yohana ini pacar kakak sejak SMA dulu Lis. Setalah lulus kami langsung bertunangan, sebagai pengikat hubungan. Apalagi kami kuliah di kota yang berbeda. Dia takut kalo aku disamber orang katanya”, canda Kak Rendra sambil mencubit pipi Yohana.
Aku hanya bisa diam, aku tak menimpali kata-katanya sama sekali.
“Tuhan, kuatkan aku”, kataku lirih dalam hati.
“Oh iya kak, aku lupa. Aku tadi kan ada janji sama temenku. Daripada temenku marah, mending aku pulang dulu ya….”, pintaku.
“Lho kok buru-buru sih, kan baru aja datang”, kata Yohana.
“Habisnya kak, tadi aku lupa kalo ada janji.”, kataku berusaha meyakinkan.
Melihat ekspresi diwajahku, kak Rendra langsung menolongku.
“Ya udah, kalau gitu kakak antar kamu pulang aja ya. Ga apa-apa kan Yo?”, kata Kak Rendra.
“Oh, ya udah deh… Hati-hati ya…”, Yohana menyetujui.
“Ok deh kak Yo, hati-hati juga ya…”, kataku sambil meninggalkan Yohana.
Kak Rendra mengikutiku dan berusaha untuk meraih tanganku. Aku hempaskan tangannya yang barus aja menyentuhku.
“Lis, tunggu dulu lis…”, pintanya.
“Ada apa sih kak?”, tanyaku berpura-pura .
“Kamu kenapa lis? Kakak salah apa lis?”, tanya Kak Rendra.
“Kakak ga salah. Aku yang salah kak!”, jawabku menahan emosi.
“Kamu salah apa lis, ngomong dong sama Kakak”, seakan tidak tahu.
“Sudahlah kak, jangan pura-pura”, teriakku.
“Apa maksudmu lis, ngomong yang jelas!”, kak Rendra menimpali.
“Aku telah salah menilai kakak. Kenapa kakak tak pernah cerita tentang Kak Yohana?”, tanyaku sambil berteriak.
“Maafkan Kakak lis. Kakak tak tahu harus dimulai darimana untuk menceritakan tentang Yohana.”
“Tapi akhirnya kakak bisa kan bercerita tentang Kak Yohana sekarang?”
“Iya Lis, Kakak bisa, tapi berat lis… Kakak tahu jika akan berakhir seperti ini. Kakak tahu semua ini akan menyakitimu Lis. Kakak tahu kalau kamu suka sama Kakak. Tapi kakak harus memilih lis… Dan pilihan kakak jatuh pada Yohana. Tunangan Kakak.”
“Iya kak, aku sadar, kakak terlalu tinggi bagiku. Aku tahu, kakak selama ini hanya menganggapku sebagai adik. Aku tahu kalau kakak tak akan pernah menjadi pacarku.”
“Bukan begitu lisa, kakak juga mencintaimu. Tapi kakak sudah punya tunangan. Kakak tak mungkin mengecewakan keluarga Kakak, apalagi keluarga Yohana. Lisa, jadilah adikku tersayang, meskipun kamu tak bisa jadi pacarku tersayang”, Kak Rendra menangis sambil memelukku.
“Mau kan Lis..”, pinta kak Rendra sambil memohon.
“Aku akan berusaha kak, meskipun berat bagiku kak”, jawabku.
“Aku tahu lis, meski aku bukan pacarmu, tapi kamu masih bisa memilikiku sebagai kakakmu.”
Aku menangis dalam pelukan Kak Rendra, orang yang selama ini aku cintai, orang yang hanya ingin menjadi kakakku bukan pacarku.

HARI SABTU. “Tolong anterin aku pulang ya… Sekalian ntar aku kenalin ma ortuku….”, pinta Indah pada Iwan lewat telephon.
“Sorry, aku ga bisa nganterin kamu pulang. Aku harus bersih-bersih rumah.”
“Ayolah, please… Badanku lemes banget neh….”, rengek Indah.
“Lain kali aja ya sayang… Nanti kamu pulang naik bus aja. Masalah biaya, nanti aku ganti deh…”, jawab Iwan.
Mungkin itu adalah permintaan yang kesekian kalinya Indah agar Iwan mau mengantarnya pulang. Tapi meskipun sudah berpacaran 10 bulan, Iwan belum pernah mau memperkenalkan dirinya pada keluarga Indah.
Pagi yang mendung, hujan rintik-rintik mulai membasahi kota. Indah keluar dari kost naik angkutan kota menuju ke terminal dengan malas. Sampai di terminal, bus sudah siap mau berangkat. Indah berlari mengejar bus, sampai akhirnya supir menghentikan busnya dan mempersilahkan Indah masuk.
Sepanjang perjalanan Indah hanya diam. Indah hanya berfikir, kenapa Iwan tidak pernah mau mengantarkan pulang. Selalu ada alasan untuk menolak permintaannya. Iwan juga tega membiarkan Indah pulang sendirian meski dalam keadaan sakit seperti sekarang ini.
Tiba-tiba badan Indah gemetar, keringat mulai membasahi tubuhnya. Kulitnya yang putih terlihat pucat.
“Aku harus kuat, aku tidak boleh kalah dari penyakit ini”, gumam Indah.
Setelah menempuh perjalanan sekitar 1 jam, sampailah di kota yang Indah tuju. Kota tempat orangtuanya tinggal.
“Kiri Pak!”, seru indah.
Sopir bus pun mulai mengurangi kecepatannya dan menepi.
Indah turun dari bus dengan badan lemas.
“Ayo, kamu harus kuat Indah, sebentar lagi sampai rumah”, lirih Indah memberi semangat pada dirinya sendiri.
Setelah turun dari bus, Indah menyeberang jalan dan hendak mencari angkutan kota untuk menuju ke rumahnya.
Indah menengok ke arah kanan – kiri untuk memastikan bahwa dirinya aman untuk menyeberang. Setelah terlihat sepi, Indah mulai melintasi jalan. Tapi sial, kakinya lemas dan tak mampu lagi menopang tubuhnya. Indah pun terjatuh.
“NGENGGG!!!”, suara sepeda motor ngebut melintas dijalanan itu tak lama setelah indah terjatuh.

“Halo, Iwan”, suara Putri, teman Indah.
“Iya, ada apa put?”, jawab Iwan di telepon.
“Iwan, kamu dimana sekarang? Sudah di rumah Indah ya? Jam berapa kamu berangkat, dengan siapa aja?”, tanya Putri tanpa memberi kesempatan pada Iwan untuk menjawab.
“Aku sekarang dirumah, lagi bersih-bersih rumah. Males aku ke rumah Indah, jadi orang kok ga pernah mandiri. Pulang aja selalu minta diantar. Padahal berangkat sendiri juga bisa”, jawab Iwan dengan nada rada jengkel.
“Maksudmu?”, tanya Putri bingung. “Kamu ngga ke rumah Indah? Kamu ngga ingin melihat Indah keadaan Indah?”, Putri meneruskan.
“Apa maksudmu put?”, Iwan bingung.
“Jadi kamu belum dengar beritanya ya? Iwan, Indah kecelakaan saat perjalanan pulang.”, suara Putri lirih.
“Hey, jangan main-main put. Kamu ngga usah sekongkol sama Indah buat ngerjai aku” , Iwan yang sebel dengar berita dari Putri, dan menganggap semua itu hanya gurauan belaka agar Iwan merasa bersalah.
“Aku beneran Iwan, tadi temen kerja Indah datang ke kost dan memberi tahu kabar itu. Aku kira kamu sudah ditelepon sama keluarga Indah”, suara Putri yang semakin lirih, menahan isak tangis.
Badan Iwan gemetar mendengar berita itu, badannya lemas dan tak bisa berkata apa-apa.
“Halo, Iwan! Iwan! Kamu masih disitu? Iwan!”, Putri berteriak-teriak setelah beberapa saat Iwan di seberang sana  tak menjawab apa-apa.
“Iya put, kamu tahu rumah Indah? Anterin aku kesana ya….”, pinta Iwan dengan suara gemetar.
“Aku juga belum tahu rumahnya wan. Aku kira kamu sudah tahu. Lagian kalian sudah lama pacaran, masa belum tahu rumahnya”, kata Putri.
“Aku tak  pernah tanya alamatnya Put. Kamu ngga tanya ke temannya yang ngasih kabar ke kos?”
“Aku sudah tanya wan, tapi temennya juga belum tahu rumahnya. Lagian ini hari Sabtu, kantor tempat Indah kerja juga tutup wan. Jadi mungkin hari Senin baru bisa cari tahu alamatnya. Gimana? Kamu yang sabar ya…”
“Put, kenapa harus seperti ini? Aku kira tadi Indah hanya manja dan minta dianterin pulang. Makanya aku tak meladeninya. Aku suruh saja dia  pulang sendirian”, Iwan bercerita kejadian sesaat sebelum Indah pulang.
“Makanya wan, jadi cowok itu yang peka. Punya pacar minta dimanja ya dimanja. Lagian Indah kan jarang-jarang manja ke kamu. Indah itu anaknya mandiri. Tapi ngga salah kan kalo dia kadang pengen manja ke cowoknya?”, Putri marah ke Iwan yang selama ini cuek dengan keadaan Indah.
“Bukannya gitu put. Aku selalu melihat diriku sendiri. Aku tak pernah manja ke siap-siapa. Kemana-mana aku berangkat sendiri. Makanya aku minta Indah seperti diriku”, Iwan membela diri.
“Trus kalo dah kaya gini, kamu gimana? Apa yang bisa kamu lakuin?”, tanya Putri sambil menangis.
“Aku tak tahu put, seandainya aku tahu akan seperti ini, aku pasti mengantarnya tadi..”, suara Iwan yang mulai terisak.
“Sudahlah wan, semua tak ada gunanya, kamu yang sabar ya…”, pinta Putri.
“Iya put, makasih ya…”, jawab Iwan sambil meletakkan gagang teleponnya.

HARI SENIN. Pagi-pagi Iwan datang ke kantor tempat Indah bekerja dan menemui bagian HRD hendak menanyakan alamat Indah. Seorang cewek dengan tubuh tinggi semampai dengan kulit sawo matang datang menemui Iwan.
“Maaf, anda siapanya Indah?”, tanya cewek itu.
“Saya Iwan, pacarnya Indah”, jawab Iwan.
Cewek itu hanya melihat Iwan dengan menyipitkan mata sebelah seakan-akan tak percaya mendengar jawaban Iwan.
“Kalau memang pacarnya, kenapa anda sampai tidak tahu alamat pacar anda sendiri?”, tanya cewek itu.
“Maaf bu, ceritanya panjang. Dan saya juga ga pernah kepikiran sampai begini”, Iwan mulai bingung menjawabnya.
“Ya sudah, ini alamatnya. Semoga anda diberi kesabaran dan ketabahan”, jawab cewek itu.
“Trimakasih bu. Saya permisi dulu”, Iwan berpamitan setelah mendapatkan alamat Indah.

HARI SELASA. Saat pagi buta dan mentari belum menampakkan sinarnya, ditemani Putri dan Bima, Iwan berangkat ke rumah Indah. Bima adalah teman dekat Iwan sekaligus pacar Putri. Dengan bertanya berkali-kali, akhirnya Iwan dan teman-temannya sampai di rumah Indah.
“Tok..tok..tok!!! Permisi…”, Iwan mengetuk rumah sesuai dengan alamat yang telah diberikan HRD tempat Indah bekerja.
Rumah itu sepi. Tiba-tiba seorang wanita paruh baya keluar.
“Maaf bu, apa ini rumah Indah?”, tanya Iwan dengan sigap.
“Iya, mas siapa ya?”, tanya ibu itu.
“Saya Iwan”, jawab Iwan singkat.
“Untuk apa kamu kesini?”, tanya ibu itu dengan nada tinggi.
Iwan bingung harus menjawab apa.
“Maafkan saya bu, saya tak bermaksud untuk mengabaikan Indah. Gimana keadaan Indah?”, tanya Iwan lagi.
Ibu itu tiba-tiba menangis dan meninggalkan Iwan beserta Putri dan Bima di depan rumah tanpa mempersilahkan mereka masuk.
Iwan bingung, ada apa sebenarnya. Iwan mulai berfikir yang bukan-bukan.
Tiba-tiba seorang laki-laki tua keluar dari rumah.
“Kamu Iwan?”, tanya laki-laki itu tegas. “Dimana tanggung jawabmu sebagai pacarnya Indah?” orang tua itu melanjutkan.
“Sungguh, maafkan saya pak. Saya…”
“Sudahlah, silahkan anda pulang” pria itu memotong.
“Tapi pak, saya ingin bertemu Indah. Saya sangat menyesal dengan kejadian ini. Saya mohon pak, beri saya kesempatan untuk menemui Indah”, pinta Iwan.
“Kamu serius ingin bertemu dengannya. Lalu apa yang akan kamu lakukan setelah melihat keadaan Indah? Apa kamu bisa menerima keadaan Indah?”, pria itu bertanya dan memastikan bahwa Iwan benar-benar serius mencintai Indah.
“Iya pak, saya serius ingin bertemu Indah. Apapun yang terjadi, saya akan menerima Indah apa adanya. Saya akan menyayangi Indah dan memperlakukan dia dengan sebaik-baiknya”, jawab Iwan meyakinkan.
“Ikut aku ke mobil”,kata laki-laki itu singkat dan mempersilakan Iwan, Bima dan Putri masuk ke dalam mobil.
Mobil yang mereka tumpangi melaju kencang. Iwan merasa kebingungan, mau dibawa kemana mereka bertiga. Tapi Iwan tak berani bertanya apa-apa. Iwan hanya bisa menunggu apa yang akan dilakukan laki-laki tua itu.
Tiba-tiba mobil berhenti di sebuah pemakaman. Laki-laki itu turun dan berjalan menuju ke area pemakaman. Iwan dan dua orang temannya mengikuti laki-laki itu dibelakang. Tiba-tiba laki-laki itu berhenti di sebuah makam yang belum kering tanahnya. Mungkin baru beberapa hari kuburan itu dibuat. Iwan membaca tulisan di batu nisan itu. “Indah Arini Binti Soemantri” tulisan yang tertera di batu nisan tersebut.
Badan Iwan lemas, Iwan terduduk, dia menangis memeluk batu nisan itu.
“Indah! Mengapa kau tinggalkan aku? Mengapa tak kau beri kesempatan bagiku untuk memperbaiki kesalahanku? Kenapa kau menyadarkan aku dari sifat egoisku dengan cara ini? Indah, dengan apa aku harus menebus semua kesalahanku?”, kata Iwan dengan terisak.
Tiba-tiba laki-laki itu pergi meninggalkan mereka bertiga di pemakaman dan dengan segera menjalankan mobil yang mereka tumpangi tadi. Mobil itu melesat dan menghilang diantara mobil-mobil yang lain.
Putri dan Bima hanya saling berpandangan. Mereka tak tahu harus berbuat apa.
“Sudahlah wan, tangismu hanya akan menjadi beban bagi Indah untuk menjalani hidupnya di alam sana. Relakan dia wan, meski kami tahu semua itu sangat berat bagimu”, kata Bima yang berusaha untuk menguatkan Iwan.
“Betul wan, do’akan saja semoga Indah diampuni dosa-dosanya, dan semoga diterima disisi-Nya”, Putri menambahi.
Tapi Iwan hanya menangis dan sama sekali tak menggubris kata-kata temennya.
Petang mulai menjelang, Iwan mulai tersadar dari tangisnya, berdiri dan berjalan meninggalkan makam. Saat melintas dijalan, tiba-tiba mobil melintas dan menghantam tubuh Iwan. Setelah Iwan sadar dan terbangun, seorang laki-laki muda berlumuran darah tergeletak di jalan. Orang-orang berkumpul mengerumuni tubuh laki-laki itu. Bima dan Putri memeluk tubuh laki-laki muda itu sambil menangis. Iwan hanya melihat kejadian itu. Tiba-tiba sebuah tangan menyentuh bahu Iwan. Iwan menoleh ke arah tangan itu. “Indah!”, seru Iwan melihat Indah tersenyum. Senyuman paling manis yang pernah Indah berikan pada Iwan. Mereka pun berjalan bergandengan meninggalkan kerumunan dan menghilang dikejauhan.

Dinginnya udara malam menusuk sampai ke tulang dalam perjalanan dari kampung halamanku di sebuah desa kecil di kota Medan menuju suatu tempat di Pulau Jawa. Suatu tempat yang tidak aku kenal. Kata ibuku, dulu saat aku masih berumur 2 tahun pernah datang ke tempat yang sekarang aku tuju ini. Kira-kira 16 tahun yang lalu. Dan sekarang aku harus datang ke tempat itu memenuhi undangan dari seseorang yang telah menghancurkan keluargaku.

Tapi, kenapa aku mau melakukannya? Kenapa aku mau memenuhi undangan itu? Untuk balas dendam? Mungkin, tapi balas dendam yang seperti apa? Atau hanya sekedar untuk menghakimi? Apakah aku seorang hakim yang baik dalam masalah ini? Oh entahlah. Kenapa juga aku harus memikirkan semua itu?

Bis yang aku tumpangi pun terus berjalan seiring dengan berjalannya malam. Seluruh tanya hadir dalam benakku. Tak lupa aku juga mengumpulkan segala pertanyaan untuk menghakimi pria yang telah mengundangku.

Setelah beberapa hari perjalanan, saat senja mulai turun, akhirnya sampai juga aku di sebuah desa dengan masyarakatnya yang ramah. Aku bisa mengatakan masyarakatnya ramah karena mereka selalu menyapa dan tersenyum dengan ramah kepadaku. Sebagian orang sudah mengenal namaku, padahal aku sama sekali tak mengenal mereka. Mereka yang telah mengenalku langsung menuntunku ke sebuah rumah. Rumah kecil dengan pelataran luas dan banyak pepohonan di depannya. Dari luar aku melihat sosok setengah baya telah menungguku.

Sosok setengah baya itu duduk di kursi ruang tamu. Kulitnya yang hitam dan keriput serta badannya yang kurus kering membuatnya terlihat lebih tua dari umurnya. Dia berdiri menyambutku dan memelukku dengan erat, tapi kenapa aku tak bisa merasakan kehangatannya. Kenapa seakan aku tak pernah mengenal pria ini. Dan akupun tak mampu untuk membalas pelukannya, aku hanya bisa diam terpaku di tempat aku berdiri.

Kata-kata yang selama perjalanan aku kumpulkan untuk menghakiminya sedikit demi sedikit mulai terhapus dari ingatanku. Sungguh aku tak tega untuk marah apalagi membentaknya.

“Bagaimana kabarmu dan adik?”, katanya memulai pembicaraan. Sungguh aku kangen dengan kalian. Tapi aku tak bisa berbuat apa-apa dengan keadaan ini. ”, dia melanjutkan dan tiba-tiba dia terdiam. Matanya memerah dan air mulai menggenangi matanya.

“Kami baik-baik saja. Begitu juga ibu yang telah engkau tinggalkan, dia masih sehat dan terlihat muda”, kataku sedikit ketus.

“Syukurlah… Bagaimana kuliahmu? Dan bagaimana dengan sekolah adikmu? Apa kalian kekurangan biaya? Apa kalian butuh sesuatu?”

“Tidak. Kami tidak kekurangan apapun. Kami bahagia dengan keadaan kami.”

Tiba-tiba kami terdiam lama. Hanya kesunyian yang ada diantara kami. Dia berjalan sedikit terpincang sambil memapahku dan mempersilahkan aku duduk.

Kemudian sosok perempuan masuk ke ruang tamu sambil membawa dua gelas air. Jika dilihat dari sosoknya, jelas dia jauh lebih muda dibandingkan dengan pria yang ada di depanku. Dia tersenyum hangat ketika melihatku. Setelah meletakkan gelas yang berisi air minum, dia menyalamiku sambil memelukku.

“Dandi ya? Ini aku, Tante Rike. Gimana kabarmu? Wah…ternyata kamu sekarang sudah dewasa ya. Gimana kabar adikmu? Apa dia sehat-sehat saja? Kenapa tidak sekalian kamu ajak kesini?”, dia terus bertanya dengan ramah. Tutur katanya halus, benar-benar menunjukkan bahwa dia seorang perempuan jawa yang terpelajar.

“Kabarku baik-baik saja, begitu juga dengan adik. Adik ga bisa kesini karena masih sibuk dengan sekolahnya.”

Setelah selesai aku menjawab, dia pun pergi meninggalkan aku dengan pria itu.

Tak lama setelah Tante Rike pergi meninggalkan kami, pria setengah baya itu memulai berbicara lagi padaku.

“Maafkan aku. Selama ini aku tak bisa menjengukmu. Mungkin kamu juga tahu sendiri kenapa aku melakukan itu.”

“Maafkan katamu? Setelah sekian lama kamu meninggalkan aku, adik serta ibu, sekarang kamu minta maaf? Dimana perasaanmu? Dimana tanggungjawabmu sebagai seorang ayah? Oh, bukan. Kamu bukanlah ayahku. Ayahku tak mungkin meninggalkan keluarganya. Ayahku bukan seorang pengecut. Ayahku sudah mati.”, entah setan mana yang telah merasukiku sehingga kata-kata kasar itu terlontar begitu saja dari mulutku.

“Kamu bicara apa? Kenapa kamu bicara seperti itu? Jadi selama ini kamu masih belum tau apa yang terjadi antara aku dengan ibumu? Oh Tuhan….”

“Aku sudah tahu semuanya! Apalagi yang harus aku ketahui?”

“Belum, kamu belum mengetahui semuanya. Kamu mungkin hanya mendengar cerita dari ibumu dan tak pernah mendengar cerita dari orang di sekitarmu.”

“Apalagi? Mendengar cerita dari orang-orang yang tidak suka dengan ibuku? Cerita yang menjelek-jelekkan ibuku yang telah membesarkan aku?”

“Diam!”, tiba-tiba pria itu berteriak.

“Kamu yang diam!”, jawabku tak kalah sengitnya. “Apa hakmu untuk membentakku?”

Tiba-tiba dia terdiam dan menitikkan air matanya. Sungguh aku tak ingin melihat pria ini menangis. Pria yang telah meninggalkan keluarganya kini menangis di depanku, apa yang harus aku lakukan? Pergi. Aku harus pergi meninggalkan tempat ini sebelum tangisan pria ini mempengaruhi pikiranku dan membuat aku lemah. Tapi aku harus pergi kemana? Aku tak mengenal siapa-siapa disini. Keluargaku? Oh bukan, keluarga dari pria yang telah menyakiti ibuku banyak disini. Tapi aku juga tak mengenal mereka. Tante Rike, iya Tante Rike yang pernah aku kenal. Itu pun hanya lewat telepon saat ayah belum meninggalkan ibuku.

Mungkin Tante Rike dapat mendengar suara hatiku. Tiba-tiba dia masuk ke ruang tamu.

“Kamu istirahat saja dulu, pasti kamu capek banget.”, suaranya memecahkan kesunyian. Dia menuntunku ke sebuah kamar dan meninggalkan aku di sana.

oooo00000oooo

Pagi itu aku dan adikku sedang bersiap untuk berangkat sekolah. Tiba-tiba ayah memintaku untuk duduk sebentar. Ayah mengambil gambar aku dan adik dengan kamera handphonenya. Aku dan adik hanya diam menuruti perintah ayah.

Setelah itu ayah mencium dan memelukku dengan hangat. Beliau menitikkan air mata. Aku tak tahu apa yang terjadi. Dan kenapa ayah melakukan ini.

“Hati-hati ya di rumah. Jangan nakal. Sekolah yang pinter, belajar yang rajin.”

Mendengar ayah memberikan pesan-pesannya, aku dan adik hanya diam, tak tahu harus bicara apa. Sampai akhirnya ayah berkata, “Ayah mau pergi ke Jawa. Jangan lupakan ayah ya. Nanti kalau kamu dan adik sudah dewasa, kalian bisa mengunjungi ayah kesana. Sampai jumpa….” Setelah selesai bicara, ayah pergi dengan terpincang dan melambaikan tangannya. Aku dan adik membalas lambaian itu sambil meneteskan air mata.

Aku tak paham dengan semua yang ayah katakan, tapi yang aku tahu, ayah pergi meninggalkan kami. Iya, aku, adik, ibuku dan kenangan kami.

Kesedihan ini semakin terasa karena baru beberapa minggu ayah pulang dari perantauannya.

Ayah pulang dengan keadaan yang menyedihkan. Beliau tak bisa jalan karena kakinya patah. Ayah dilukai oleh beberapa orang yang sedang berusaha untuk merampok rumah tempat tinggalnya di perantauan. Karena keadaan ayah yang parah dan di perantauan itu ayah hanya tinggal dengan beberapa orang temannya, daripada menyusahkan teman-temannya akhirnya ayah memutuskan untuk pulang ke rumah. Berharap bisa dirawat oleh kami sebagai keluarganya.

Tapi entah kenapa, sejak ayah pulang, ibu jarang bertegur sapa dengan ayah. Ibu juga masih tetap seperti biasa, jarang di rumah seperti saat ayah di perantauan. Entah sebenarnya apa yang dilakukan ibu di luar sana. Yang jelas, sejak pergi di siang hari dengan berdandan rapi, membawa tas yang isinya kaos dan celana pendek yang ketat sekilas seperti pakaian olahraga, ibu baru pulang saat tengah malam menjelang. Aku tahu isi dari tas ibu karena aku sering menunggui ibu saat dandan dan merengek meminta agar ibu tidak pergi. Tapi rengekanku itu tak berarti apa-apa bagi ibuku. Karena tiap hari ibu pun selalu pergi dengan rutinitasnya itu.

Karena ibu tak pernah di rumah, jadi hanya aku dan adik yang selalu menemani ayah. Dengan segala macam leluconannya, ayah selalu menghibur kami. Suasana sangat menyenangkan bersama ayah. Tapi alangkah lebih menyenangkannya jika ibu juga ada disini bersama kami.

Setelah kepergian ayah, tiap hari aku dan adik secara bergantian bertanya kepada ibu. Pertanyaan yang terus berulang tiap hari. Apa yang sebenarnya terjadi, kenapa ayah pergi dan kapan ayah kembali? Itulah pertanyaan yang selalu rajin kami tanyakan. Tapi pertanyaan itu tak kunjung ada jawabnya. Sampai akhirnya aku dan adik mulai capek untuk menanyakannya. Dan tak tahu harus ke siapa lagi, karena ibu melarang kami bergaul dengan tetangga dan keluarga yang lain. Beberapa kali kami pernah mencoba untuk bertanya ke keluarga atau tetangga. Tapi mereka malah menjelek-jelekkan ibu. Mereka bilang ibu bukanlah istri yang baik. Hanya untuk memperoleh informasi semacam itu, kami harus membayarnya dengan mendapat pukulan dari ibu.

Tapi pada akhirnya kesabaran kami berbuah hasil. Saat aku menginjak SMA, ibu bercerita tentang ayah. Ibu bercerita bahwa ayah menceraikan ibu karena sudah tidak mencintai ibu. Hanya itu yang ibu ceritakan.

Sering aku bertanya dalam hati, kenapa ayah begitu tega menceraikan ibu? Kenapa juga ayah tidak mencintai ibu lagi? Apakah karena ibu tak secantik wanita-wanita di luar sana? Kalau memang itu alasannya, betapa bejat dan piciknya ayahku. Apalagi sejak pergi dari rumah, ayah tak pernah menghubungi kami maupun menjenguk kami.

oooo0000oooo

Sinar mentari pagi yang menerobos masuk ke dalam kamar sehingga membangunkan tidurku. Oh tidak, jam berapa ini? Samar-samar aku lihat jam dinding menunjukkan pukul 8 pagi. Aku masih kurang percaya, aku gosok mataku agar bisa melihat lebih jelas. Benar, ini jam 8 pagi. Mungkin aku terlalu capek hingga tidur sampai lupa waktu. Segera aku beranjak dari tempat tidurku dan keluar dari kamar. Di luar ada beberapa orang sudah menungguiku diruang makan. Aku hanya bisa tersenyum pada mereka. Terlihat seorang nenek dan kakek yang sudah renta. Mungkin itu nenek dan kakekku. Terlihat juga Tante Rike serta seorang perempuan lebih tua dari Tante Rike yang kemungkinan besar dia adalah Tante Tina adik dari seorang pria yang saat ini tidak aku akui sebagai ayah. Seorang pria separuh baya. Mungkin itu Om Hendi suami dari Tante Tina. Di sana ada juga seorang gadis cantik yang kira-kira umurnya beberapa tahun lebih muda dari aku, mungkin itu Ria anak dari Tante Tina dan Om Hendi. Tak lupa, di sana juga ada pria itu, pria yang membuat darahku mendidih saat melihatnya.

Tante Rike langsung menyambut kehadiranku dan menuntunku ke kamar mandi, seakan-akan dia selalu bisa membaca dengan jelas apa yang ada dalam pikiranku.

Setelah mandi, mereka meminta aku untuk makan bersama. Mereka makan sambil sesekali bersenda gurau. Sungguh menyenangkan suasana di keluarga ini. Entah sudah berapa lama aku tak merasakan hangatnya keluarga seperti yang aku rasakan sekarang. Selama ini hanya aku, adik dan ibu yang tinggal di rumah. Suasana selalu sunyi, karena ibu tak pernah membolehkan kami bersenda gurau saat makan. Aku membayangkan alangkah indahnya hidup ini jika keluargaku seperti ini. Tapi itu hanyalah impianku saja, karena kenyataannya aku tak pernah merasakannya sejak ayah pergi merantau dan ibu selalu sibuk dengan kegiatannya.

Aku benar-benar menikmati suasana yang ada di rumah ini. Sampai akhirnya semua orang mulai meninggalkan meja makan satu per satu dan pergi. Aku tak tahu apa yang harus aku lakukan. Aku menuju ke ruang keluarga, duduk di sofa dan menyalakan televisi. Tiba-tiba pria yang tidak lain adalah ayahku itu datang menghampiriku, dia duduk didekatku dan memegang pundakku. Dia tersenyum dan mulai berkata.

“Tolong dengarkan ayah, dan jangan memotong cerita ayah sebelum selesai. Mungkin selama ini kamu hanya mendengar cerita dari ibumu saja kenapa ayah pergi. Jadi biarkan ayah juga menjelaskan alasan kenapa ayah pergi.”

Saat itu aku hanya diam. Mencoba untuk membuka hati dan mendengarkan cerita pria yang ada di dekatku.

oooo0000oooo

“Kenapa engkau selalu memaksa aku untuk menikahi gadis itu?”, tanya Pri.

“Apa salahnya jika kau menikahinya? Toh dia juga masih gadis, dia juga wanita baik-baik. Tak ada alasan bagimu untuk tidak mencintainya. Lagian, apa yang bisa kamu banggakan? Kamu sudah tua, kakimu pincang, seharusnya kamu merasa beruntung bisa menikahi gadis seperti Heni”, jawab Maya yang tak mau kalah.

“Apa maksudmu?”

“Aku tak ada maksud apa-apa. Aku hanya ingin kamu menikahi Heni, titik.”

“Kenapa kamu ingin suamimu ini menikah lagi?”

“Apa ada yang salah jika aku menyuruh suamiku berpoligami? Bukankah poligami juga diperbolehkan dalam agama?”

“Jika memang aku punya niat untuk poligami, aku akan memilih sendiri wanita yang ingin aku nikahi. Tapi demi Tuhan, aku tak ada niat untuk poligami.”

“Terserah, kamu mau bilang apa. Nikahi gadis itu, atau kau ceraikan aku.”

“Ngomong apa kamu ini? Cabut kata-katamu itu. Berpikirlah dulu sebelum kau mengucapkannya.”

“Aku sudah memikirkannya baik-baik. Jika kamu tidak mau menikahi gadis itu, lebih baik kau ceraikan aku.”

Maya pergi meninggalkan Pri dengan wajah sewot.

Setelah pertengkaran itu, Pri dan Maya tak lagi bertegur sapa. Sampai akhirnya suatu malam, pertengkaran pecah lagi diantara mereka.

“Sekarang kamu harus memutuskan, nikahi Heni atau ceraikan aku!”, suara Maya yang terdengar jelas ditengah heningnya malam.

“Kenapa kau selalu memojokkan aku? Aku akan tetap berusaha untuk mempertahankan keluarga ini. Tapi aku tak akan mau menikah dengan Heni. Apapun yang terjadi. Karena aku tak mau mempermainkan dia, menikahinya hanya karena kamu paksa. Andai kata aku menikahinya, belum tentu aku bisa membahagiakan dia. Menikahinya, sama halnya dengan melakukan sebuah kesalahan.”

“Jadi kamu lebih memilih untuk menceraikan aku daripada harus menikahi Heni?”

“Demi Tuhan, aku tak ingin melakukannya. Tolong kamu pikirkan lagi.”

“Tidak ada yang perlu dipikirkan lagi, ceraikan aku!”

“Apa tidak ada cara lain untuk mempertahankan keluarga ini?”

“Tidak!”

“Sungguh dengan berberat hati, jika memang itu maumu, aku akan mengabulkannya. Tak ada gunanya aku mempertahankan istri yang tak lagi menginginkan aku.”

“Terimakasih kau telah mengabulkannya. Tapi aku punya satu permohonan, tolong jangan kau bawa anak-anak jika kau pergi.”

“Asal kau tak akan pernah mensia-siakan mereka..”, kata Pri lirih.

oooo0000oooo

Pri yang tak lain adalah ayahku terus bercerita. Persis apa yang diceritakan tetangga dan keluargaku di Medan. Aku tak mampu menahan air mataku. Aku memeluk ayahku dan menangis dalam dekapannya.

“Lalu kenapa ayah tak pernah menjengukku?”

“Ayah sering datang ke rumah, tapi ibumu selalu bilang kalian sudah tidur dan tak pernah mengijinkan aku untuk melihat wajah kalian saat tidur barang sejenak.”

“Kalau tak bisa menemuiku, kenapa ayah tak mencoba untuk menelepon kami?”

“Tiap kali aku telepon, ibumu yang mengangkat. Dia bilang kalau dia sedang tidak di rumah. Selama ini ayah hanya bisa menunggu dan berharap kalian mau menelpon ayah.”

“Mana bisa ayah berbuat seperti itu? Bagaimana kami bisa telepon ayah, jika kami saja tak punya nomor ayah. Kenapa tidak dari dulu ayah mengundang aku untuk datang kesini?”

“Ayah sudah lama mengundangmu. Tapi kakek dan nenekmu bilang, kalau mereka belum bisa menyampaikannya pada kalian. Sudahlah, yang penting sekarang ini kamu sudah tahu yang sebenarnya terjadi.”

“Maafkan aku ayah….”, mereka saling berpelukan dengan erat. Tangis mereka meledak Tangis kebahagiaan dua orang yang selama ini terpisahkan oleh keadaan.

~oooo0000oooo~

Kenapa kita menutup mata, ketika kita tidur?
Ketika kita menangis?
Ketika kita membayangkan?
Ini karena hal terindah di dunia tidak terlihat.
Dan ketika kita membuka mata yang terlihat adalah hal nyata.
Dan sesuatu yang nyata kadang tak seindah angan-angan kita.

Kenapa orang yang bertengkar dan marah saling berteriak?
Karena orang yang sedang bertengkar dan marah hatinya tertutup oleh emosi, sehingga tak bisa melihat, mendengar ataupun merasakan kehadiran lawan bicaranya. Itulah sebabnya hati mereka terasa jauh sekali.. Sehingga mereka harus saling berteriak agar bisa mendengar satu sama lain.
Berbeda dengan orang yang sedang jatuh cinta. Hati mereka terasa dekat sekali… Sehingga hanya dengan bisikan mereka bisa mendengarkan dan mengerti maksud satu sama lain…

apa kabar hitam untuk cinta?
Warna kusam seperti jelaga dilangi mendung siang hari
menahan sinar mentari dan membawa dingin menggigil bersama sepi
aku sendiri…
ingin membunuh sepi tanpa harus bercinta lagi

apa kabar pink untuk cinta?
Warna ceria seperti bunga yang sedang mekar di pagi hari
mengantarkan kebahagiaan dan membawa kehangatan dalam kebersamaan
sekali ku mengenali selamanya ingin aku rasai

Ketika kau pergi meninggalkan aku…

apakah yang kau tinggal?
dan apakah yang masih tersisa?

hiduplah yang masih tersisa
walau terkadang terasa hampa…..

Ketika kamu mencintai seseorang
Dan kamu berharap kepadanya
Untuk dapat memiliki selamanya
Dan orang itu datang kepadamu
Dengan senyum manis dari bibirnya
Bagaimana perasaanmu??

Dan ketika kamu mencintai seseorang
Dan kamu berharap kepadanya
Untuk dapat memiliki selamanya
Dan orang itu pergi menjauh
Dengan senyum sinis dari bibirnya
Bagaimana perasaanmu??

Dan ketika kamu mencintai seseorang
Dan kamu berharap kepadanya
Untuk dapat memiliki selamanya
Dan orang itu hanya diam di tempatnya
Dengan senyum hampa dari bibirnya
Bagaimana perasaanmu??

Beberapa bulan telah berlalu sejak engkau melepaskan genggamanmu. Aku berharap dengan berlalunya waktu, aku akan melupakanmu. Jujur, engkaulah yang terindah dalam hidupku. Tapi mungkin semuanya harus berakhir. Mungkin inilah yang terbaik untuk kita.

Saat ini aku hanya ingin konsentrasi ke kuliahku yang sudah pada tahap akhir. Skripsiku sempat terbengkalai beberapa minggu karena dalam otakku yang ada hanya kebencian dan kemarahanku padamu. Tapi kali ini aku ingin bangkit, aku ingin buktikan bahwa aku bisa dan mampu meski tanpa dirimu di sisiku yang menemani aku.

Aku tak ingin mengingatmu lagi, yang ingin kuingat hanyalah rumus-rumus yang kugunakan dalam penelitianku dan rangkaian-rangkaian elektronika untuk membuat alat untuk skripsiku. Dan akhirnya aku bisa… Senang rasanya saat itu terlepas dari belenggu kemarahan. Meski sempat tersirat dalam fikiranku, aku bukanlah apa-apa, itulah sebabnya kau meninggalkanku. Mungkin aku tidaklah sebanding dengan dirimu ataupun pacar barumu. Down!! Itulah sebenernya yang terjadi pada diriku. Tapi akhirnya aku mampu…

Beberapa hari lagi aku akan ujian seminar, itulah sebabnya aku persiapkan segalanya. Aku tak ingin mengingat masa lalu tentang hati dan perasaanku. Aku hanya ingin berkonsentrasi ke ujianku.

Tapi ketika siang menjelang, tiba-tiba bayangmu hadir dalam fikiranku. Engkau datang diwaktu ujianku. Kau menungguku sampai ujian berakhir dan mengajakku untuk refreshing selesai ujian. Dan… Aah… fikiran apa ini. Aku berusaha untuk menghapusnya. Aku tak boleh mengingat dia!!!

Ketika siang telah berlalu, malam pun datang. Tiba-tiba engkau hadir didepanku. Ini bukanlah mimpi!!! Engkau yang hadir disini. Engkau tersenyum di depanku. Aku pun duduk tegar di depanmu. Engkau bercerita tentang pacar barumu. Aku hanya tersenyum seperti saat aku menghadapi teman-temanku yang lain. Tak ada kebencian ataupun kemarahan dalam hatiku, dalam bibirku, ataupun dalam otakku. Engkau terus bercerita tentang betapa lemahnya pacar barumu, dan aku di depanmu mendengar dengan seksama tanpa ekspresi apa-apa.

Harusnya aku bahagia, tapi aku malah merasa bingung, kenapa aku bisa sesabar dan setabah ini…???

Ketika bulan mulai merambah naik, engkaupun berpamitan padaku. Ku lepaskan dirimu, kubiarkan engkau pergi dan berlalu. Saat itu aku mulai merasakan betapa hampanya hatiku. Aku menangis sebisaku. Aku lampiaskan segala kesedihan dan dukaku.
Dan engkau meninggalkan beberapa pertanyaan…
Terbuat dari apa hatimu???
Tak adakah rasa kasihan dalam dirimu???
Kenapa engkau bercerita seperti itu padaku???
Itulah yang ada, yang kau bawa sebagai oleh-oleh untukku darimu sebagai teman dalam siang dan malamku menjelang ujianku.
Terimakasih atas semuanya, meskipun berat tapi setidaknya aku mampu…

Indah bila kuingat masa lalu
Tertawa bersamamu
Bercanda disampingmu
Tersenyum untukmu

Salahkah jika aku selalu menunggu
Untuk datangnya hari itu
Merasakan kebahagiaan seperti dulu
Tanpa harus mengulang waktu

Cintaku akan tetap ada dan terasa…

Meskipun dia tak berbekas dalam secarik kertas…

Halaman Berikutnya »