<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Celotehkoe...</title>
	<atom:link href="http://eeni.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://eeni.wordpress.com</link>
	<description>Catatan kecilku....</description>
	<lastBuildDate>Fri, 17 Apr 2009 04:20:12 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<cloud domain='eeni.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://www.gravatar.com/blavatar/5d02ac6e3cf980f4bec2dd996524a81a?s=96&#038;d=http://s.wordpress.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Celotehkoe...</title>
		<link>http://eeni.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://eeni.wordpress.com/osd.xml" title="Celotehkoe&#8230;" />
		<item>
		<title>3Diva &#8211; Adilkah ini untukku</title>
		<link>http://eeni.wordpress.com/2009/04/17/3diva-adilkah-ini-untukku/</link>
		<comments>http://eeni.wordpress.com/2009/04/17/3diva-adilkah-ini-untukku/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 17 Apr 2009 04:20:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>eeni</dc:creator>
				<category><![CDATA[Lirik]]></category>
		<category><![CDATA[ba bi bu...]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://eeni.wordpress.com/?p=76</guid>
		<description><![CDATA[Tadi pagi, temenku bercerita tentang lagunya 3Diva, yang berisi tentang adil atau tidak. Karena cerita temenku itu, aku tertarik untuk mendengarkannya.  Mau tau seperti apa lirik lagu yang judulnya &#8220;Adilkah ini untukku&#8221;?
aku memilih dia bukan karena cinta padanya
aku memilih dia hanya karena kau tinggalkan aku
kau tinggalkan aku disini sendiri
aku memilih dia&#8230;.
sejak kau khianatiku, dunia seolah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=eeni.wordpress.com&blog=1054058&post=76&subd=eeni&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Tadi pagi, temenku bercerita tentang lagunya 3Diva, yang berisi tentang adil atau tidak. Karena cerita temenku itu, aku tertarik untuk mendengarkannya.  Mau tau seperti apa lirik lagu yang judulnya &#8220;Adilkah ini untukku&#8221;?</p>
<p style="text-align:center;">aku memilih dia bukan karena cinta padanya<br />
aku memilih dia hanya karena kau tinggalkan aku<br />
kau tinggalkan aku disini sendiri<br />
aku memilih dia&#8230;.</p>
<p style="text-align:center;">sejak kau khianatiku, dunia seolah akan runtuh<br />
dengan memilih dia aku mencoba untuk lupakanmu<br />
tuk melupakanmu yang menyakitiku<br />
aku memilih dia&#8230;</p>
<p style="text-align:center;">adilkah ini untukku<br />
atau cukup adilkah ini untuknya<br />
dia yang selama ini mencintaiku<br />
dengan tulus dan sepenuh hatinya</p>
<p style="text-align:center;">dosakah kini diriku<br />
yang tak pernah membalas arti cintanya<br />
karna cinta sejatiku telah menghilang<br />
telah habis terbawa olehmu</p>
<p style="text-align:center;">dengan memilih dia aku mencoba untuk melupakanmu<br />
yang menyakitiku<br />
aku memilih dia&#8230;</p>
<p style="text-align:center;">
ooOOoo</p>
<p>Saat aku mendengarkan, seakan aku tertohok dan teradili. Bukankah itu aku????</p>
<p>Memang, luka itu sudah lama terkubur, tapi bukan berarti telah sembuh ataupun hilang bekasnya. Luka itu masih ada dan membekas dalam dihatiku. Persis seperti lagu itu, cintaku pergi bersama kepergiannya. Dan semenjak itu, aku tak pernah mencintai cowok lain. Yang ada hanya perasaan sayang, kagum dan suka. Tak ada yang sampai menyentuh hatiku.</p>
<p>Tapi anehnya, setelah kepergiannya, aku sudah 2x menjalin hubungan meski semuanya harus kandas begitu saja.</p>
<p><strong>Hubunganku yang pertama:</strong></p>
<p>Hubunganku ini adalah pelarianku yang pertama. Aku menerima dia hanya karena merasa kesepian, dan aku berharap dengan menerima dia aku bisa melupakan masa laluku. Ternyata aku salah. Aku salah menerima dia karena alasan itu, dan aku salah karena memilih dia untuk menjadi pacarku. Karena dia seorang cowok yang playboy, matre dan ga modal sama sekali. Akhirnya aku pun putus dengannya.</p>
<p><strong>Hubunganku yang kedua:</strong></p>
<p>Hubungan ini aku jalin beberapa minggu setelah berakhirnya hubunganku yang kedua. Dengan berbagai lika-likunya akhirnya aku jadian dengan cowok yang ke-2 ini. Karena hubungan kami sangat aneh, akhirnya cowokku itu bilang : &#8220;Sebenarnya hubungan kita ini salah&#8221;. Aku mengiyakan kata-katanya, dan aku menjawabnya: &#8220;Sesuatu yang diawali dengan salah, maka akan berakhir dengan salah pula&#8221;. Saat itu aku tak tahu dia serius mengucapkannya atau tidak, tapi yang jelas waktu itu aku hanya sekedar bergurau.</p>
<p>Menurut dia hubungan kami salah karena sebelum aku menerima dia, aku pernah menolaknya. Hanya karena aku belum siap terluka dan sebenarnya aku tak mencintai dia. Tapi aku ingat pepatah jawa: &#8220;Witing tresno jalaran soko kulino&#8221; (Cinta akan tumbuh karena terbiasa). Akhirnya aku mengabaikan perasaanku, perasaan yang tanpa cinta itu, dan menerima dia saat dia mengutarakan cintanya yang ke-2. Dia bilang kepadaku kalau sebenarnya dia tak suka meminta kesempatan kedua padaku. Karena bagi dia, mengutarakan cinta itu ibarat memaku kayu. Saat mengutarakan cinta dan ditolak, itu ibarat memaku kayu tapi gagal. Saat mengutarakan cinta yang kedua, seperti memaku kayu untuk yang kedua kalinya juga. Saat itu kayu sudah ada bekas goresan, meski dipoles seperti apapun, dikayu itu tetap saja terdapat goresan. Begitu juga dengan hubungan, selalu ada cacat karena luka yang pertama. Itulah yang dimaksud kesalahan bagi dia.</p>
<p>Padahal dalam hati aku juga merasa bahwa hubunganku ini adalah sebuah kesalahan. Kesalahan karena sebenarnya aku tak mencintai dia. Aku hanya menyayangi dia. Sama seperti rasa sayangku ke temen-temen yang lain.</p>
<p>Berhubung dia adalah pacarku, maka aku harus lebih mengutamakan dia dibandingkan teman-temanku. Yang intinya, meski aku tak mencintai dia, tapi aku adalah pacarnya. Jadi aku berkewajiban untuk menjalankan tugasku untuk menjadi pacarnya. Aku yakin bisa, dan jika dia benar-benar bisa memberi kebahagiaan padaku, mungkin rasa cinta itu akan tumbuh dengan sendirinya dalam hatiku. Ternyata aku salah, saat awal pacaran memang kami merasa bahagia. Aku bukan kami yang aku maksud, karena aku tak tahu perasaannya. Tapi lama kelamaan semua berubah. Dia mulai acuh dan tak perhatian ke aku. Bukan perasaan cinta yang tumbuh, tapi perasaan marah yang semakin merajalela. Aku tak yakin kalau dia benar-benar mencintai aku. Seharusnya aku tak boleh menyalahkan dia jika memang dia tidak mencintai aku, karena aku sendiri juga tak mencintai dia. Tapi aku terlanjur sayang sama dia. Yang membedakan antara aku dan dia adalah: aku berusaha sebaik mungkin untuk menjadi pacarnya, aku lakukan apa yang seharusnya dilakukan seorang pacar ke pasangannya dan aku menuntut diperlakukan sebagai pacar oleh dia. Sedangkan dia, jika memang dia mencintai aku seperti yang dia katakan, tapi kenapa dia tak pernah berlaku seperti orang yang pacaran? Kenapa dia tak mampu memberi aku perhatian seperti yang diberikan cowok2 lain ke pasangannya? Itu yang membuat perasaan cinta itu urung hadir dalam hatiku.</p>
<p>Karena perhatiannya yang semakin lama semakin berkurang, itulah sebabnya aku meminta bukti kalau dia mencintai aku. Dan ternyata dia tak bisa membuktikannya. Itu adalah akhir dari hubunganku dengannya.</p>
<p>Selama ini aku selalu menganggap dia yang menyebabkan kami putus. Salah karena dia tak perhatian ke aku, tak pernah membahagiakan aku, tak pernah menjadi cowok yang baik untukku, tak pernah menjalankan tugas dia sebagai cowokku. Tapi hari ini, saat aku mendengar lagu 3Diva itu, akhirnya aku sadar. Meskipun aku bisa menjalankan tugasku sebagai pacar dengan baik, tapi aku bukanlah pacar yang baik. Aku tak pernah memberikan hatiku untuknya.</p>
<p>Apa yang harus aku lakukan?</p>
<p>Apakah aku harus meminta maaf padanya?</p>
<p>Apakah dia mau memaafkanku?</p>
<p>Kenapa sampai sekarang aku tak mampu mengucapkan kata maaf untuknya karena kesalahanku ini? Aku juga tak pernah menceritakan semua ini padanya. Hanya aku yang tahu perasaanku ini. Dulu memang aku sering bercerita ke temenku kalau aku sebenarnya belum mencintai dia saat menerima dia sebagai pacarku. Seiring dengan berlalunya waktu, dan semakin lamanya hubungan kami, teman2ku berfikir kalau aku sudah mulai mencintainya. Tapi mereka semua salah, sampai hubungan kami berakhir, perasaan cinta itu masih belum ada.</p>
<p>Sungguh ingin sekali aku menceritakan semua ini padamu, dan ingin sekali aku mengucapkan:</p>
<p style="text-align:center;"><strong>&#8220;MAAFKAN AKU MANTANKU&#8230;!!!!&#8221;</strong></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/eeni.wordpress.com/76/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/eeni.wordpress.com/76/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/eeni.wordpress.com/76/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/eeni.wordpress.com/76/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/eeni.wordpress.com/76/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/eeni.wordpress.com/76/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/eeni.wordpress.com/76/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/eeni.wordpress.com/76/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/eeni.wordpress.com/76/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/eeni.wordpress.com/76/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=eeni.wordpress.com&blog=1054058&post=76&subd=eeni&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://eeni.wordpress.com/2009/04/17/3diva-adilkah-ini-untukku/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/0631d17bf3ddc7cb92e45df659a0b4a8?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">eeni</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Adik tersayang, bukan pacar tersayang&#8230;</title>
		<link>http://eeni.wordpress.com/2008/12/09/adik-tersayang-bukan-pacar-tersayang/</link>
		<comments>http://eeni.wordpress.com/2008/12/09/adik-tersayang-bukan-pacar-tersayang/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 09 Dec 2008 08:22:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>eeni</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://eeni.wordpress.com/?p=72</guid>
		<description><![CDATA[Lisa, jadilah adikku tersayang, meskipun kamu tak bisa jadi pacarku tersayang<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=eeni.wordpress.com&blog=1054058&post=72&subd=eeni&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Aku berjalan sendirian di trotoar. Tiap hari ku hitung pohon palem di sepanjang jalan dari kostku sampai kampus. Dari pertama aku menghitungnya, tak juga berubah jumlahnya.<br />
Tiiit!Tiiiit!!! Suara klakson sepeda motor membuyarkan konsentrasiku.<br />
&#8220;Lisa, ayo ikut aku&#8221;, seorang cowok memanggilku dari atas sepeda motor.<br />
&#8220;Mau kemana kak?&#8221;, tanyaku.<br />
&#8220;Udah, ga usah banyak tanya, naik aja ke sepedaku&#8221;, jawab Kak Rendra sambil menarik tanganku.<br />
Tanpa pikir panjang aku langsung nangkring di belakang Kak Rendra.<br />
Aku tak terlalu ambil pusing dengan kejadian seperti ini, karena Kak Rendra sudah sering mengajak aku jalan-jalan. Kadang aku berfikir, apakah nanti jika Kak Rendra sudah punya pacar akan tetap seperti ini sikapnya ke aku. Ah sudahlah, bodo amat!!!<br />
&#8220;Dah makan belum lis?&#8221;, tanya Kak Rendra.<br />
&#8220;Belum kak, pengennya nanti sekalian beli. Kalau dah nyampe kost males mo keluar lagi&#8221;, jawabku enteng.<br />
&#8220;Ya udah, kita makan aja dulu&#8221;, ajak kak Rendra.<br />
&#8220;Ok deh kak&#8230;&#8221;, jawabku setuju.<br />
Sepeda motor kak Rendra terus melaju dan berhenti di sebuah rumah makan tempat anak-anak kost dengan keuangan pas-pasan sering makan dan nongkrong, karena harganya yang lumayan cocok dengan kondisi mahasiswa yang tak berdompet tebal.<br />
Kak Rendra menggandeng tanganku dan menuntunku masuk ke rumah makan tersebut serta mempersilahkan aku duduk dikursi yang terlebih dulu telah dia bersihkan.<br />
&#8220;Ayo, mo makan apa?&#8221;, tanya kak Rendra sambil menyodorkan daftar menu ke arahku.<br />
&#8220;Ikutan kakak aja deh&#8221;, jawabku ringan. Memang secara kebetulan selera kami hampir sama. Apa yang dia suka biasanya aku juga suka, begitu juga sebaliknya.<br />
&#8220;Oke deh, kakak yang pilih&#8221;, jawab kak Rendra.<br />
Sambil menunggu pesanan kami datang, kak Rendra terus bercerita.<br />
&#8220;Iya, ayahmu kapan kesini? Aku dah nyiapin kamar lho. Apa kamu aja yang nempatin dulu sebelum ayahmu datang?&#8221;, tanya kak Rendra kepadaku.<br />
&#8220;Masih lama kok kak, tenang aja. Kakak tempatin sendiri aja. Ngapain aku tinggal disitu, kan enakan kamarku, kasurnya empuk, suasananya sepi, lingkungannya bersih. Ga kaya tempat kakak, kotor, sempit, kasurnya dah keras kaya batu&#8221;, jawabku sekenanya.<br />
&#8220;Ye&#8230; biar gitu tempat itu nanti juga bakal jadi tempatmu. Kamu kan calon istriku&#8221;, goda Kak Rendra.<br />
&#8220;Sapa yang mau sama Kak Rendra, playboy gitu kok, males ah, ntar sakit ati terus&#8221;, jawabku menimpali. Aku berkata seperti itu bukan tanpa dasar. Memang kak Rendra paling suka godain cewek-cewek. Dimana-mana banyak kenalan cewek cantik. Bahkan tak jarang dia mengajakku main ke rumah cewek-cewek yang jadi kecengannya dan memperkenalkan aku sebagai ceweknya. Apa neh maksudnya??? Tau ah!!!<br />
Pernah aku bertanya ke Kak Rendra, kenapa dia tak pernah memilih satu dari sekian cewek yang telah dia deketin. Jawabnya singkat, belum ada yang cocok. Kriteria cewek yang dia inginkan adalah cewek berjilbab, ga terlalu tinggi tapi juga ga pendek, kurus biar nanti waktu sudah punya anak badannya ga gembrot, tidak cantik tapi juga tidak jelek. Kriteria itu persis seperti diriku.<br />
Akhirnya pesanan kami datang. Kami melahap makanan yang telah tersedia. Kak Rendra makan seperti orang yang sedang kelaparan. Makanan dia habiskan dengan secepat kilat.<br />
&#8220;Ayo cepat habisin, biar gemuk&#8221;, katanya.<br />
Melihat makanku masih banyak dan makanannya telah lenyap, tanpa banyak ngomong dia langsung nimbrung makan di piringku.<br />
&#8220;Biar cepet selesai&#8221;, katanya tanpa basa-basi.<br />
&#8220;Ayo, temenin aku ke toko sepatu. Mau beliin sepatu buat keponakan&#8221;, ajaknya setelah menghabiskan porsiku.<br />
&#8220;Kok keponakan terus sih, kapan aku dibeliin juga?&#8221;, tanyaku.<br />
&#8220;Beres, kamu mau sepatu yang model gimana aja aku beliin kok. Pengen yang gimana, model sepatu sapi, sepatu kuda apa sepatu badut?&#8221;, katanya menggodaku.<br />
&#8220;Dasar kakak ini&#8221;, jawabku merajuk.<br />
Setelah 1 jam lebih memilih-milih sepatu yang cocok buat keponakan Kak Rendra, kami pun pulang.<br />
Sampai dijalan&#8230;.<br />
&#8220;Lis, kamu ga laper? Ayo makan&#8221;, kak Rendra mengajak aku makan. Sepertinya memang kak Rendra sudah kelaparan.<br />
&#8220;Ogah ah, ntar gemuk&#8221;, jawabku singkat.<br />
&#8220;Beneran ga mau, ya udah, kita langsung pulang aja ya&#8230;.&#8221;, ajaknya.<br />
&#8220;Ok deh&#8230;&#8221;, sahutku.<br />
Sepeda motor terus melaju. Sampai di depan kost, Kak Rendra menghentikan motornya.<br />
&#8220;Makasih ya Lis dah mau nemenin kakak.&#8221;<br />
&#8220;Sama-sama kak, makasih juga untuk makannya&#8221;, jawabku sambil berlalu.<br />
&#8220;Lis, tunggu!&#8221;, cegah kak Rendra.<br />
&#8220;Ada apa kak?&#8221;, tanyaku penasaran.<br />
&#8220;Ini hadiah buat pacar tercantikku&#8221;, katanya sambil mengeluarkan cokelat.<br />
&#8220;Makasih kak, sering-sering ya&#8230;&#8221;, ucapku sambil cengengesan.<br />
Kak Rendra langsung menggeber sepedanya dan meninggalkanku.</p>
<p>Aku mengenal Kak Rendra 2 tahun yang lalu. Saat itu aku masih menjadi maba di salah satu Universitas Negeri, dan Kak Rendra adalah seniorku, bahkan senior banget di kampusku. Kak Rendra sering melihatiku dari ujung kaki sampai ujung jilbabku ketika bertemu. Sampai akhirnya dia memberanikan diri mengajak aku kenalan. Dia bercerita kalau dia kaget ketika melihat aku pertama kali. Katanya wajahku mengingatkan aku pada mantan pacarnya yang mirip dengan adik kandungnya yang kebetulan mantan pacarnya itu satu daerah sama aku. Selama 2 tahun itu, dia selalu meneleponku, berkunjung ke kostku, membawakan aku makan ketika dia tahu aku belum makan, memperkenalkan aku sebagai pacarnya pada temen-temennya. Lama-kelamaan benih cintapun muncul dihatiku. Aku mulai menyukai Kak Rendra. Tapi aku tak pernah mau mengatakan ke Kak Rendra. Aku selalu menyembunyikan perasaan itu.<br />
Meskipun selalu memperkenalkan aku sebagai pacarnya ke temen-temennya, Kak Rendra tak pernah mengatakan kalau dia menyukai aku apalagi mencintai aku. Dia pernah bermaksud memperkenalkan aku pada keluarganya, tapi dia tak memberi tahu aku diperkenalkan ke keluarganya sebagai siapanya dia. Akhirnya aku pun menolaknya. Aku sudah puas selalu bersamanya meski tanpa setatus apa-apa.</p>
<p>&#8220;Lis, yuk nge-date&#8221;, kata Kak Rendra lewat telepon malam itu.<br />
&#8220;Males ah, gi capek, habis ngerjain tugas&#8221;, jawabku menolak ajakan Kak Rendra.<br />
&#8220;Ayolah sayang. Abang kangen sama kamu. Mau ya??&#8221;, rayu kak Rendra.<br />
&#8220;Ya udah, aku mandi dulu, jemput setengah jam lagi&#8221;, jawabku yang selalu tak bisa menolak ajakan kak Rendra.<br />
&#8220;Ok deh cinta&#8230;.&#8221;, jawabnya menyetujui.<br />
Tepat setengah jam, sebuah sepeda motor terparkir di depan kost. Seorang laki-laki tinggi, badan tegap, kulit putih dengan pakaian rapi turun dari sepeda motor berjalan menghampiriku. Alamak&#8230; cakep banget wajahnya.<br />
&#8220;Sudah siap lis?&#8221;, sapa dia membuyarkan lamunanku yang tertegun melihat penampilannya.<br />
&#8220;Iya, kak. Sudah siap&#8221;, jawabku tergopoh.<br />
Dia menggandeng tanganku menuju ke sepeda motornya. Aku naik di sepeda motor dan kak Rendra langsung menggebernya.<br />
Sampai di sebuah mall dia memarkirkan sepedanya.<br />
&#8220;Ayo lis, kita masuk&#8221;, ajaknya sambil menggandeng tanganku.<br />
&#8220;Yohana!&#8221;, teriak Kak Rendra.<br />
&#8220;Hei!&#8221;, jawab seorang cewek berjilbab pink. Wajahnya cantik, kulitnya putih bersih, badannya sedikit gemuk, tapi sama sekali tidak mengurangi aura kecantikannya.<br />
&#8220;Yo, kenalin ini Lisa, yang sering aku ceritain.&#8221;, Kak Rendra memperkenalkan aku pada Yohana.<br />
&#8220;Lis, kenalin ini Yohana, tunanganku&#8221;, kata Kak Rendra memperkenalkan gadis yang baru saja kami temui. Sebuah kalimat yang membuat darahku berhenti mengalir. Jantungku berdetak kencang. Aku tak tahu harus berbuat apa. Aku terpaku memandangi gadis itu.<br />
Kuulurkan tanganku, kupaksakan senyum menghiasi bibirku.<br />
&#8220;Yohana ini pacar kakak sejak SMA dulu Lis. Setalah lulus kami langsung bertunangan, sebagai pengikat hubungan. Apalagi kami kuliah di kota yang berbeda. Dia takut kalo aku disamber orang katanya&#8221;, canda Kak Rendra sambil mencubit pipi Yohana.<br />
Aku hanya bisa diam, aku tak menimpali kata-katanya sama sekali.<br />
&#8220;Tuhan, kuatkan aku&#8221;, kataku lirih dalam hati.<br />
&#8220;Oh iya kak, aku lupa. Aku tadi kan ada janji sama temenku. Daripada temenku marah, mending aku pulang dulu ya&#8230;.&#8221;, pintaku.<br />
&#8220;Lho kok buru-buru sih, kan baru aja datang&#8221;, kata Yohana.<br />
&#8220;Habisnya kak, tadi aku lupa kalo ada janji.&#8221;, kataku berusaha meyakinkan.<br />
Melihat ekspresi diwajahku, kak Rendra langsung menolongku.<br />
&#8220;Ya udah, kalau gitu kakak antar kamu pulang aja ya. Ga apa-apa kan Yo?&#8221;, kata Kak Rendra.<br />
&#8220;Oh, ya udah deh&#8230; Hati-hati ya&#8230;&#8221;, Yohana menyetujui.<br />
&#8220;Ok deh kak Yo, hati-hati juga ya&#8230;&#8221;, kataku sambil meninggalkan Yohana.<br />
Kak Rendra mengikutiku dan berusaha untuk meraih tanganku. Aku hempaskan tangannya yang barus aja menyentuhku.<br />
&#8220;Lis, tunggu dulu lis&#8230;&#8221;, pintanya.<br />
&#8220;Ada apa sih kak?&#8221;, tanyaku berpura-pura .<br />
&#8220;Kamu kenapa lis? Kakak salah apa lis?&#8221;, tanya Kak Rendra.<br />
&#8220;Kakak ga salah. Aku yang salah kak!&#8221;, jawabku menahan emosi.<br />
&#8220;Kamu salah apa lis, ngomong dong sama Kakak&#8221;, seakan tidak tahu.<br />
&#8220;Sudahlah kak, jangan pura-pura&#8221;, teriakku.<br />
&#8220;Apa maksudmu lis, ngomong yang jelas!&#8221;, kak Rendra menimpali.<br />
&#8220;Aku telah salah menilai kakak. Kenapa kakak tak pernah cerita tentang Kak Yohana?&#8221;, tanyaku sambil berteriak.<br />
&#8220;Maafkan Kakak lis. Kakak tak tahu harus dimulai darimana untuk menceritakan tentang Yohana.&#8221;<br />
&#8220;Tapi akhirnya kakak bisa kan bercerita tentang Kak Yohana sekarang?&#8221;<br />
&#8220;Iya Lis, Kakak bisa, tapi berat lis&#8230; Kakak tahu jika akan berakhir seperti ini. Kakak tahu semua ini akan menyakitimu Lis. Kakak tahu kalau kamu suka sama Kakak. Tapi kakak harus memilih lis&#8230; Dan pilihan kakak jatuh pada Yohana. Tunangan Kakak.&#8221;<br />
&#8220;Iya kak, aku sadar, kakak terlalu tinggi bagiku. Aku tahu, kakak selama ini hanya menganggapku sebagai adik. Aku tahu kalau kakak tak akan pernah menjadi pacarku.&#8221;<br />
&#8220;Bukan begitu lisa, kakak juga mencintaimu. Tapi kakak sudah punya tunangan. Kakak tak mungkin mengecewakan keluarga Kakak, apalagi keluarga Yohana. Lisa, jadilah adikku tersayang, meskipun kamu tak bisa jadi pacarku tersayang&#8221;, Kak Rendra menangis sambil memelukku.<br />
&#8220;Mau kan Lis..&#8221;, pinta kak Rendra sambil memohon.<br />
&#8220;Aku akan berusaha kak, meskipun berat bagiku kak&#8221;, jawabku.<br />
&#8220;Aku tahu lis, meski aku bukan pacarmu, tapi kamu masih bisa memilikiku sebagai kakakmu.&#8221;<br />
Aku menangis dalam pelukan Kak Rendra, orang yang selama ini aku cintai, orang yang hanya ingin menjadi kakakku bukan pacarku.</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/eeni.wordpress.com/72/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/eeni.wordpress.com/72/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/eeni.wordpress.com/72/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/eeni.wordpress.com/72/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/eeni.wordpress.com/72/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/eeni.wordpress.com/72/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/eeni.wordpress.com/72/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/eeni.wordpress.com/72/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/eeni.wordpress.com/72/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/eeni.wordpress.com/72/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=eeni.wordpress.com&blog=1054058&post=72&subd=eeni&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://eeni.wordpress.com/2008/12/09/adik-tersayang-bukan-pacar-tersayang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/0631d17bf3ddc7cb92e45df659a0b4a8?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">eeni</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kenangan Terakhir</title>
		<link>http://eeni.wordpress.com/2008/12/09/kenangan-terakhir/</link>
		<comments>http://eeni.wordpress.com/2008/12/09/kenangan-terakhir/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 09 Dec 2008 05:53:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>eeni</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita]]></category>
		<category><![CDATA[Add new tag]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://eeni.wordpress.com/?p=68</guid>
		<description><![CDATA["Iya pak, saya serius ingin bertemu Indah. Apapun yang terjadi, saya akan menerima Indah apa adanya. Saya akan menyayangi Indah dan memperlakukan dia dengan sebaik-baiknya", jawab Iwan meyakinkan.<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=eeni.wordpress.com&blog=1054058&post=68&subd=eeni&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>HARI SABTU. &#8220;Tolong anterin aku pulang ya&#8230; Sekalian ntar aku kenalin ma ortuku&#8230;.&#8221;, pinta Indah pada Iwan lewat telephon.<br />
&#8220;Sorry, aku ga bisa nganterin kamu pulang. Aku harus bersih-bersih rumah.&#8221;<br />
&#8220;Ayolah, please&#8230; Badanku lemes banget neh&#8230;.&#8221;, rengek Indah.<br />
&#8220;Lain kali aja ya sayang&#8230; Nanti kamu pulang naik bus aja. Masalah biaya, nanti aku ganti deh&#8230;&#8221;, jawab Iwan.<br />
Mungkin itu adalah permintaan yang kesekian kalinya Indah agar Iwan mau mengantarnya pulang. Tapi meskipun sudah berpacaran 10 bulan, Iwan belum pernah mau memperkenalkan dirinya pada keluarga Indah.<br />
Pagi yang mendung, hujan rintik-rintik mulai membasahi kota. Indah keluar dari kost naik angkutan kota menuju ke terminal dengan malas. Sampai di terminal, bus sudah siap mau berangkat. Indah berlari mengejar bus, sampai akhirnya supir menghentikan busnya dan mempersilahkan Indah masuk.<br />
Sepanjang perjalanan Indah hanya diam. Indah hanya berfikir, kenapa Iwan tidak pernah mau mengantarkan pulang. Selalu ada alasan untuk menolak permintaannya. Iwan juga tega membiarkan Indah pulang sendirian meski dalam keadaan sakit seperti sekarang ini.<br />
Tiba-tiba badan Indah gemetar, keringat mulai membasahi tubuhnya. Kulitnya yang putih terlihat pucat.<br />
&#8220;Aku harus kuat, aku tidak boleh kalah dari penyakit ini&#8221;, gumam Indah.<br />
Setelah menempuh perjalanan sekitar 1 jam, sampailah di kota yang Indah tuju. Kota tempat orangtuanya tinggal.<br />
&#8220;Kiri Pak!&#8221;, seru indah.<br />
Sopir bus pun mulai mengurangi kecepatannya dan menepi.<br />
Indah turun dari bus dengan badan lemas.<br />
&#8220;Ayo, kamu harus kuat Indah, sebentar lagi sampai rumah&#8221;, lirih Indah memberi semangat pada dirinya sendiri.<br />
Setelah turun dari bus, Indah menyeberang jalan dan hendak mencari angkutan kota untuk menuju ke rumahnya.<br />
Indah menengok ke arah kanan &#8211; kiri untuk memastikan bahwa dirinya aman untuk menyeberang. Setelah terlihat sepi, Indah mulai melintasi jalan. Tapi sial, kakinya lemas dan tak mampu lagi menopang tubuhnya. Indah pun terjatuh.<br />
&#8220;NGENGGG!!!&#8221;, suara sepeda motor ngebut melintas dijalanan itu tak lama setelah indah terjatuh.</p>
<p>&#8220;Halo, Iwan&#8221;, suara Putri, teman Indah.<br />
&#8220;Iya, ada apa put?&#8221;, jawab Iwan di telepon.<br />
&#8220;Iwan, kamu dimana sekarang? Sudah di rumah Indah ya? Jam berapa kamu berangkat, dengan siapa aja?&#8221;, tanya Putri tanpa memberi kesempatan pada Iwan untuk menjawab.<br />
&#8220;Aku sekarang dirumah, lagi bersih-bersih rumah. Males aku ke rumah Indah, jadi orang kok ga pernah mandiri. Pulang aja selalu minta diantar. Padahal berangkat sendiri juga bisa&#8221;, jawab Iwan dengan nada rada jengkel.<br />
&#8220;Maksudmu?&#8221;, tanya Putri bingung. &#8220;Kamu ngga ke rumah Indah? Kamu ngga ingin melihat Indah keadaan Indah?&#8221;, Putri meneruskan.<br />
&#8220;Apa maksudmu put?&#8221;, Iwan bingung.<br />
&#8220;Jadi kamu belum dengar beritanya ya? Iwan, Indah kecelakaan saat perjalanan pulang.&#8221;, suara Putri lirih.<br />
&#8220;Hey, jangan main-main put. Kamu ngga usah sekongkol sama Indah buat ngerjai aku&#8221; , Iwan yang sebel dengar berita dari Putri, dan menganggap semua itu hanya gurauan belaka agar Iwan merasa bersalah.<br />
&#8220;Aku beneran Iwan, tadi temen kerja Indah datang ke kost dan memberi tahu kabar itu. Aku kira kamu sudah ditelepon sama keluarga Indah&#8221;, suara Putri yang semakin lirih, menahan isak tangis.<br />
Badan Iwan gemetar mendengar berita itu, badannya lemas dan tak bisa berkata apa-apa.<br />
&#8220;Halo, Iwan! Iwan! Kamu masih disitu? Iwan!&#8221;, Putri berteriak-teriak setelah beberapa saat Iwan di seberang sana  tak menjawab apa-apa.<br />
&#8220;Iya put, kamu tahu rumah Indah? Anterin aku kesana ya&#8230;.&#8221;, pinta Iwan dengan suara gemetar.<br />
&#8220;Aku juga belum tahu rumahnya wan. Aku kira kamu sudah tahu. Lagian kalian sudah lama pacaran, masa belum tahu rumahnya&#8221;, kata Putri.<br />
&#8220;Aku tak  pernah tanya alamatnya Put. Kamu ngga tanya ke temannya yang ngasih kabar ke kos?&#8221;<br />
&#8220;Aku sudah tanya wan, tapi temennya juga belum tahu rumahnya. Lagian ini hari Sabtu, kantor tempat Indah kerja juga tutup wan. Jadi mungkin hari Senin baru bisa cari tahu alamatnya. Gimana? Kamu yang sabar ya&#8230;&#8221;<br />
&#8220;Put, kenapa harus seperti ini? Aku kira tadi Indah hanya manja dan minta dianterin pulang. Makanya aku tak meladeninya. Aku suruh saja dia  pulang sendirian&#8221;, Iwan bercerita kejadian sesaat sebelum Indah pulang.<br />
&#8220;Makanya wan, jadi cowok itu yang peka. Punya pacar minta dimanja ya dimanja. Lagian Indah kan jarang-jarang manja ke kamu. Indah itu anaknya mandiri. Tapi ngga salah kan kalo dia kadang pengen manja ke cowoknya?&#8221;, Putri marah ke Iwan yang selama ini cuek dengan keadaan Indah.<br />
&#8220;Bukannya gitu put. Aku selalu melihat diriku sendiri. Aku tak pernah manja ke siap-siapa. Kemana-mana aku berangkat sendiri. Makanya aku minta Indah seperti diriku&#8221;, Iwan membela diri.<br />
&#8220;Trus kalo dah kaya gini, kamu gimana? Apa yang bisa kamu lakuin?&#8221;, tanya Putri sambil menangis.<br />
&#8220;Aku tak tahu put, seandainya aku tahu akan seperti ini, aku pasti mengantarnya tadi..&#8221;, suara Iwan yang mulai terisak.<br />
&#8220;Sudahlah wan, semua tak ada gunanya, kamu yang sabar ya&#8230;&#8221;, pinta Putri.<br />
&#8220;Iya put, makasih ya&#8230;&#8221;, jawab Iwan sambil meletakkan gagang teleponnya.</p>
<p>HARI SENIN. Pagi-pagi Iwan datang ke kantor tempat Indah bekerja dan menemui bagian HRD hendak menanyakan alamat Indah. Seorang cewek dengan tubuh tinggi semampai dengan kulit sawo matang datang menemui Iwan.<br />
&#8220;Maaf, anda siapanya Indah?&#8221;, tanya cewek itu.<br />
&#8220;Saya Iwan, pacarnya Indah&#8221;, jawab Iwan.<br />
Cewek itu hanya melihat Iwan dengan menyipitkan mata sebelah seakan-akan tak percaya mendengar jawaban Iwan.<br />
&#8220;Kalau memang pacarnya, kenapa anda sampai tidak tahu alamat pacar anda sendiri?&#8221;, tanya cewek itu.<br />
&#8220;Maaf bu, ceritanya panjang. Dan saya juga ga pernah kepikiran sampai begini&#8221;, Iwan mulai bingung menjawabnya.<br />
&#8220;Ya sudah, ini alamatnya. Semoga anda diberi kesabaran dan ketabahan&#8221;, jawab cewek itu.<br />
&#8220;Trimakasih bu. Saya permisi dulu&#8221;, Iwan berpamitan setelah mendapatkan alamat Indah.</p>
<p>HARI SELASA. Saat pagi buta dan mentari belum menampakkan sinarnya, ditemani Putri dan Bima, Iwan berangkat ke rumah Indah. Bima adalah teman dekat Iwan sekaligus pacar Putri. Dengan bertanya berkali-kali, akhirnya Iwan dan teman-temannya sampai di rumah Indah.<br />
&#8220;Tok..tok..tok!!! Permisi&#8230;&#8221;, Iwan mengetuk rumah sesuai dengan alamat yang telah diberikan HRD tempat Indah bekerja.<br />
Rumah itu sepi. Tiba-tiba seorang wanita paruh baya keluar.<br />
&#8220;Maaf bu, apa ini rumah Indah?&#8221;, tanya Iwan dengan sigap.<br />
&#8220;Iya, mas siapa ya?&#8221;, tanya ibu itu.<br />
&#8220;Saya Iwan&#8221;, jawab Iwan singkat.<br />
&#8220;Untuk apa kamu kesini?&#8221;, tanya ibu itu dengan nada tinggi.<br />
Iwan bingung harus menjawab apa.<br />
&#8220;Maafkan saya bu, saya tak bermaksud untuk mengabaikan Indah. Gimana keadaan Indah?&#8221;, tanya Iwan lagi.<br />
Ibu itu tiba-tiba menangis dan meninggalkan Iwan beserta Putri dan Bima di depan rumah tanpa mempersilahkan mereka masuk.<br />
Iwan bingung, ada apa sebenarnya. Iwan mulai berfikir yang bukan-bukan.<br />
Tiba-tiba seorang laki-laki tua keluar dari rumah.<br />
&#8220;Kamu Iwan?&#8221;, tanya laki-laki itu tegas. &#8220;Dimana tanggung jawabmu sebagai pacarnya Indah?&#8221; orang tua itu melanjutkan.<br />
&#8220;Sungguh, maafkan saya pak. Saya&#8230;&#8221;<br />
&#8220;Sudahlah, silahkan anda pulang&#8221; pria itu memotong.<br />
&#8220;Tapi pak, saya ingin bertemu Indah. Saya sangat menyesal dengan kejadian ini. Saya mohon pak, beri saya kesempatan untuk menemui Indah&#8221;, pinta Iwan.<br />
&#8220;Kamu serius ingin bertemu dengannya. Lalu apa yang akan kamu lakukan setelah melihat keadaan Indah? Apa kamu bisa menerima keadaan Indah?&#8221;, pria itu bertanya dan memastikan bahwa Iwan benar-benar serius mencintai Indah.<br />
&#8220;Iya pak, saya serius ingin bertemu Indah. Apapun yang terjadi, saya akan menerima Indah apa adanya. Saya akan menyayangi Indah dan memperlakukan dia dengan sebaik-baiknya&#8221;, jawab Iwan meyakinkan.<br />
&#8220;Ikut aku ke mobil&#8221;,kata laki-laki itu singkat dan mempersilakan Iwan, Bima dan Putri masuk ke dalam mobil.<br />
Mobil yang mereka tumpangi melaju kencang. Iwan merasa kebingungan, mau dibawa kemana mereka bertiga. Tapi Iwan tak berani bertanya apa-apa. Iwan hanya bisa menunggu apa yang akan dilakukan laki-laki tua itu.<br />
Tiba-tiba mobil berhenti di sebuah pemakaman. Laki-laki itu turun dan berjalan menuju ke area pemakaman. Iwan dan dua orang temannya mengikuti laki-laki itu dibelakang. Tiba-tiba laki-laki itu berhenti di sebuah makam yang belum kering tanahnya. Mungkin baru beberapa hari kuburan itu dibuat. Iwan membaca tulisan di batu nisan itu. &#8220;Indah Arini Binti Soemantri&#8221; tulisan yang tertera di batu nisan tersebut.<br />
Badan Iwan lemas, Iwan terduduk, dia menangis memeluk batu nisan itu.<br />
&#8220;Indah! Mengapa kau tinggalkan aku? Mengapa tak kau beri kesempatan bagiku untuk memperbaiki kesalahanku? Kenapa kau menyadarkan aku dari sifat egoisku dengan cara ini? Indah, dengan apa aku harus menebus semua kesalahanku?&#8221;, kata Iwan dengan terisak.<br />
Tiba-tiba laki-laki itu pergi meninggalkan mereka bertiga di pemakaman dan dengan segera menjalankan mobil yang mereka tumpangi tadi. Mobil itu melesat dan menghilang diantara mobil-mobil yang lain.<br />
Putri dan Bima hanya saling berpandangan. Mereka tak tahu harus berbuat apa.<br />
&#8220;Sudahlah wan, tangismu hanya akan menjadi beban bagi Indah untuk menjalani hidupnya di alam sana. Relakan dia wan, meski kami tahu semua itu sangat berat bagimu&#8221;, kata Bima yang berusaha untuk menguatkan Iwan.<br />
&#8220;Betul wan, do&#8217;akan saja semoga Indah diampuni dosa-dosanya, dan semoga diterima disisi-Nya&#8221;, Putri menambahi.<br />
Tapi Iwan hanya menangis dan sama sekali tak menggubris kata-kata temennya.<br />
Petang mulai menjelang, Iwan mulai tersadar dari tangisnya, berdiri dan berjalan meninggalkan makam. Saat melintas dijalan, tiba-tiba mobil melintas dan menghantam tubuh Iwan. Setelah Iwan sadar dan terbangun, seorang laki-laki muda berlumuran darah tergeletak di jalan. Orang-orang berkumpul mengerumuni tubuh laki-laki itu. Bima dan Putri memeluk tubuh laki-laki muda itu sambil menangis. Iwan hanya melihat kejadian itu. Tiba-tiba sebuah tangan menyentuh bahu Iwan. Iwan menoleh ke arah tangan itu. &#8220;Indah!&#8221;, seru Iwan melihat Indah tersenyum. Senyuman paling manis yang pernah Indah berikan pada Iwan. Mereka pun berjalan bergandengan meninggalkan kerumunan dan menghilang dikejauhan.</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/eeni.wordpress.com/68/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/eeni.wordpress.com/68/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/eeni.wordpress.com/68/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/eeni.wordpress.com/68/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/eeni.wordpress.com/68/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/eeni.wordpress.com/68/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/eeni.wordpress.com/68/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/eeni.wordpress.com/68/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/eeni.wordpress.com/68/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/eeni.wordpress.com/68/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=eeni.wordpress.com&blog=1054058&post=68&subd=eeni&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://eeni.wordpress.com/2008/12/09/kenangan-terakhir/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/0631d17bf3ddc7cb92e45df659a0b4a8?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">eeni</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kenapa Ayah???</title>
		<link>http://eeni.wordpress.com/2008/09/26/kenapa-ayah/</link>
		<comments>http://eeni.wordpress.com/2008/09/26/kenapa-ayah/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 26 Sep 2008 08:32:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>eeni</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://eeni.wordpress.com/?p=63</guid>
		<description><![CDATA[Dinginnya udara malam menusuk sampai ke tulang dalam perjalanan dari kampung halamanku di sebuah desa kecil di kota Medan menuju suatu tempat di Pulau Jawa. Suatu tempat yang tidak aku kenal. Kata ibuku, dulu saat aku masih berumur 2 tahun pernah datang ke tempat yang sekarang aku tuju ini. Kira-kira 16 tahun yang lalu. Dan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=eeni.wordpress.com&blog=1054058&post=63&subd=eeni&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p class="MsoNormal" style="text-align:left;">Dinginnya udara malam menusuk sampai ke tulang dalam perjalanan dari kampung halamanku di sebuah desa kecil di kota Medan menuju suatu tempat di Pulau Jawa. Suatu tempat yang tidak aku kenal. Kata ibuku, dulu saat aku masih berumur 2 tahun pernah datang ke tempat yang sekarang aku tuju ini. Kira-kira 16 tahun yang lalu. Dan sekarang aku harus datang ke tempat itu memenuhi undangan dari seseorang yang telah menghancurkan keluargaku.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;">Tapi, kenapa aku mau melakukannya? Kenapa aku mau memenuhi undangan itu? Untuk balas dendam? Mungkin, tapi balas dendam yang seperti apa? Atau hanya sekedar untuk menghakimi? Apakah aku seorang hakim yang baik dalam masalah ini? Oh entahlah. Kenapa juga aku harus memikirkan semua itu?</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;">Bis yang aku tumpangi pun terus berjalan seiring dengan berjalannya malam. Seluruh tanya hadir dalam benakku. Tak lupa aku juga mengumpulkan segala pertanyaan untuk menghakimi pria yang telah mengundangku.</p>
<div style="text-align:left;padding:0;">
<p class="MsoNormal" style="border:medium none;padding:0;">Setelah beberapa hari perjalanan, saat senja mulai turun, akhirnya sampai juga aku di sebuah desa dengan masyarakatnya yang ramah. Aku bisa mengatakan masyarakatnya ramah karena mereka selalu menyapa dan tersenyum dengan ramah kepadaku. Sebagian orang sudah mengenal namaku, padahal aku sama sekali tak mengenal mereka. Mereka yang telah mengenalku langsung menuntunku ke sebuah rumah. Rumah kecil dengan pelataran luas dan banyak pepohonan di depannya. Dari luar aku melihat sosok setengah baya telah menungguku.</p>
<p class="MsoNormal" style="border:medium none;padding:0;">
<p class="MsoNormal" style="border:medium none;padding:0;"><!--[if gte mso 9]&gt;  Normal 0   false false false        MicrosoftInternetExplorer4  &lt;![endif]--><!--[if gte mso 9]&gt;   &lt;![endif]--><!--[if !mso]&gt;--> <!--[endif]--> <!--[if gte mso 10]&gt;--> <!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal">Sosok setengah baya itu duduk di kursi ruang tamu. Kulitnya yang hitam dan keriput serta badannya yang kurus kering membuatnya terlihat lebih tua dari umurnya. Dia berdiri menyambutku dan memelukku dengan erat, tapi kenapa aku tak bisa merasakan kehangatannya. Kenapa seakan aku tak pernah mengenal pria ini. Dan akupun tak mampu untuk membalas pelukannya, aku hanya bisa diam terpaku di tempat aku berdiri.</p>
<p class="MsoNormal">Kata-kata yang selama perjalanan aku kumpulkan untuk menghakiminya sedikit demi sedikit mulai terhapus dari ingatanku. Sungguh aku tak tega untuk marah apalagi membentaknya.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">“Bagaimana kabarmu dan adik?”, katanya memulai pembicaraan. Sungguh aku kangen dengan kalian. Tapi aku tak <span> </span>bisa berbuat apa-apa dengan keadaan ini. ”, dia melanjutkan dan tiba-tiba dia terdiam. Matanya memerah dan air mulai menggenangi matanya.</p>
<p class="MsoNormal">“Kami baik-baik saja. Begitu juga ibu yang telah engkau tinggalkan, dia masih sehat dan terlihat muda”, kataku sedikit ketus.</p>
<p class="MsoNormal">“Syukurlah… Bagaimana kuliahmu? Dan bagaimana dengan sekolah adikmu? Apa kalian kekurangan biaya? Apa kalian butuh sesuatu?”</p>
<p class="MsoNormal">“Tidak. Kami tidak kekurangan apapun. Kami bahagia dengan keadaan kami.”</p>
<p class="MsoNormal">Tiba-tiba kami terdiam lama. Hanya kesunyian yang ada diantara kami. Dia berjalan sedikit terpincang sambil memapahku dan mempersilahkan aku duduk.</p>
<p class="MsoNormal">Kemudian sosok perempuan masuk ke ruang tamu sambil membawa dua gelas air. Jika dilihat dari sosoknya, jelas dia jauh lebih muda dibandingkan dengan pria yang ada di depanku. Dia tersenyum hangat ketika melihatku. Setelah meletakkan gelas yang berisi air minum, dia menyalamiku sambil memelukku.</p>
<p class="MsoNormal">“Dandi ya? Ini aku, Tante Rike. Gimana kabarmu? Wah…ternyata kamu sekarang sudah dewasa ya. Gimana kabar adikmu? Apa dia sehat-sehat saja? Kenapa tidak sekalian kamu ajak kesini?”,<span> </span>dia terus bertanya dengan ramah. Tutur katanya halus, benar-benar menunjukkan bahwa dia seorang perempuan jawa yang terpelajar.</p>
<p class="MsoNormal">“Kabarku baik-baik saja, begitu juga dengan adik. Adik ga bisa kesini karena masih sibuk dengan sekolahnya.”</p>
<p class="MsoNormal">Setelah selesai aku menjawab, dia pun pergi meninggalkan aku dengan pria itu.</p>
<p class="MsoNormal">Tak lama setelah Tante Rike pergi meninggalkan kami, pria setengah baya itu memulai berbicara lagi padaku.</p>
<p class="MsoNormal">“Maafkan aku. Selama ini aku tak bisa menjengukmu. Mungkin kamu juga tahu sendiri kenapa aku melakukan itu.”</p>
<p class="MsoNormal">“Maafkan katamu? Setelah sekian lama kamu meninggalkan aku, adik serta ibu, sekarang kamu minta maaf? Dimana perasaanmu? Dimana tanggungjawabmu sebagai seorang ayah? Oh, bukan. Kamu bukanlah ayahku. Ayahku tak mungkin meninggalkan keluarganya. Ayahku bukan seorang pengecut. Ayahku sudah mati.”, entah setan mana yang telah merasukiku sehingga kata-kata kasar itu terlontar begitu saja dari mulutku.</p>
<p class="MsoNormal">“Kamu bicara apa? Kenapa kamu bicara seperti itu? Jadi selama ini kamu masih belum tau apa yang terjadi antara aku dengan ibumu? Oh Tuhan….”</p>
<p class="MsoNormal">“Aku sudah tahu semuanya! Apalagi yang harus aku ketahui?”</p>
<p class="MsoNormal">“Belum, kamu belum mengetahui semuanya. Kamu mungkin hanya mendengar cerita dari ibumu dan tak pernah mendengar cerita dari orang di sekitarmu.”</p>
<p class="MsoNormal">“Apalagi? Mendengar cerita dari orang-orang yang tidak suka dengan ibuku? Cerita yang menjelek-jelekkan ibuku yang telah membesarkan aku?”</p>
<p class="MsoNormal">“Diam!”, tiba-tiba pria itu berteriak.</p>
<p class="MsoNormal">“Kamu yang diam!”, jawabku tak kalah sengitnya. “Apa hakmu untuk membentakku?”</p>
<p class="MsoNormal">Tiba-tiba dia terdiam dan menitikkan air matanya. Sungguh aku tak ingin melihat pria ini menangis. Pria yang telah meninggalkan keluarganya kini menangis di depanku, apa yang harus aku lakukan? Pergi. Aku harus pergi meninggalkan tempat ini sebelum tangisan pria ini mempengaruhi pikiranku dan membuat aku lemah. Tapi aku harus pergi kemana? Aku tak mengenal siapa-siapa disini. Keluargaku? Oh bukan, keluarga dari pria yang telah menyakiti ibuku banyak disini. Tapi aku juga tak mengenal mereka. Tante Rike, iya Tante Rike yang pernah aku kenal. Itu pun hanya lewat telepon saat ayah belum meninggalkan ibuku.</p>
<p class="MsoNormal">Mungkin Tante Rike dapat mendengar suara hatiku. Tiba-tiba dia masuk ke ruang tamu.</p>
<p class="MsoNormal">“Kamu istirahat saja dulu, pasti kamu capek banget.”, suaranya memecahkan kesunyian. Dia menuntunku ke sebuah kamar dan meninggalkan aku di sana.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;">oooo00000oooo</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;">
<p class="MsoNormal">Pagi itu aku dan adikku sedang bersiap untuk berangkat sekolah. Tiba-tiba ayah memintaku untuk duduk sebentar. Ayah mengambil gambar aku dan adik dengan kamera handphonenya. Aku dan adik hanya diam menuruti perintah ayah.</p>
<p class="MsoNormal">Setelah itu ayah mencium dan memelukku dengan hangat. Beliau menitikkan air mata. Aku tak tahu apa yang terjadi. Dan kenapa ayah melakukan ini.</p>
<p class="MsoNormal">“Hati-hati ya di rumah. Jangan nakal. Sekolah yang pinter, belajar yang rajin.”</p>
<p class="MsoNormal">Mendengar ayah memberikan pesan-pesannya, aku dan adik hanya diam, tak tahu harus bicara apa. Sampai akhirnya ayah berkata, “Ayah mau pergi ke Jawa. Jangan lupakan ayah ya. Nanti kalau kamu dan adik sudah dewasa, kalian bisa mengunjungi ayah kesana. Sampai jumpa….” Setelah selesai bicara, ayah pergi dengan terpincang dan melambaikan tangannya. Aku dan adik membalas lambaian itu sambil meneteskan air mata.</p>
<p class="MsoNormal">Aku tak paham dengan semua yang ayah katakan, tapi yang aku tahu, ayah pergi meninggalkan kami. Iya, aku, adik, ibuku dan kenangan kami.</p>
<p class="MsoNormal">Kesedihan ini semakin terasa karena baru beberapa minggu ayah pulang dari perantauannya.</p>
<p class="MsoNormal">Ayah pulang dengan keadaan yang menyedihkan. Beliau tak bisa jalan karena kakinya patah. Ayah dilukai oleh beberapa orang yang sedang berusaha untuk merampok rumah tempat tinggalnya di perantauan. Karena keadaan ayah yang parah dan di perantauan itu ayah hanya tinggal dengan beberapa orang temannya, daripada menyusahkan teman-temannya akhirnya ayah memutuskan untuk pulang ke rumah. Berharap bisa dirawat oleh kami sebagai keluarganya.</p>
<p class="MsoNormal">Tapi entah kenapa, sejak ayah pulang, ibu jarang bertegur sapa dengan ayah. Ibu juga masih tetap seperti biasa, jarang di rumah seperti saat ayah di perantauan. Entah sebenarnya apa yang dilakukan ibu di luar sana. Yang jelas, sejak pergi di siang hari dengan berdandan rapi, membawa tas yang isinya kaos dan celana pendek yang ketat sekilas seperti pakaian olahraga, ibu baru pulang saat tengah malam menjelang. Aku tahu isi dari tas ibu karena aku sering menunggui ibu saat dandan dan merengek meminta agar ibu tidak pergi. Tapi rengekanku itu tak berarti apa-apa bagi ibuku. Karena tiap hari ibu pun selalu pergi dengan rutinitasnya itu.</p>
<p class="MsoNormal">Karena ibu tak pernah di rumah, jadi hanya aku dan adik yang selalu menemani ayah. Dengan segala macam leluconannya, ayah selalu menghibur kami. Suasana sangat menyenangkan bersama ayah. Tapi alangkah lebih menyenangkannya jika ibu juga ada disini bersama kami.</p>
<p class="MsoNormal">Setelah kepergian ayah, tiap hari aku dan adik secara bergantian bertanya kepada ibu. Pertanyaan yang terus berulang tiap hari. Apa yang sebenarnya terjadi, kenapa ayah pergi dan kapan ayah kembali? Itulah pertanyaan yang selalu rajin kami tanyakan. Tapi pertanyaan itu tak kunjung ada jawabnya. Sampai akhirnya aku dan adik mulai capek untuk menanyakannya. Dan tak tahu harus ke siapa lagi, karena ibu melarang kami bergaul dengan tetangga dan keluarga yang lain. Beberapa kali kami pernah mencoba untuk bertanya ke keluarga atau tetangga. Tapi mereka malah menjelek-jelekkan ibu. Mereka bilang ibu<span> </span>bukanlah istri yang baik. Hanya untuk memperoleh informasi semacam itu, kami harus membayarnya dengan mendapat pukulan dari ibu.</p>
<p class="MsoNormal">Tapi pada akhirnya kesabaran kami berbuah hasil. Saat aku menginjak SMA, ibu bercerita tentang ayah. Ibu bercerita bahwa ayah menceraikan ibu karena sudah tidak mencintai ibu. Hanya itu yang ibu ceritakan.</p>
<p class="MsoNormal">Sering aku bertanya dalam hati, kenapa ayah begitu tega menceraikan ibu? Kenapa juga ayah tidak mencintai ibu lagi? Apakah karena ibu tak secantik wanita-wanita di luar sana? Kalau memang itu alasannya, betapa bejat dan piciknya ayahku. Apalagi sejak pergi dari rumah, ayah tak pernah menghubungi kami maupun menjenguk kami.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;">oooo0000oooo</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;"><!--[if gte mso 9]&gt;  Normal 0   false false false        MicrosoftInternetExplorer4  &lt;![endif]--><!--[if gte mso 9]&gt;   &lt;![endif]--><!--[if !mso]&gt;--> <!--[endif]--> <!--[if gte mso 10]&gt;--> <!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal">Sinar mentari pagi yang menerobos masuk ke dalam kamar sehingga membangunkan tidurku. Oh tidak, jam berapa ini? Samar-samar aku lihat jam dinding menunjukkan pukul 8 pagi. Aku masih kurang percaya, aku gosok mataku agar bisa melihat lebih jelas. Benar, ini jam 8 pagi. Mungkin aku terlalu capek hingga tidur sampai lupa waktu. Segera aku beranjak dari tempat tidurku dan keluar dari kamar. Di luar ada beberapa orang sudah menungguiku diruang makan. Aku hanya bisa tersenyum pada mereka. Terlihat seorang nenek dan kakek yang sudah renta. Mungkin itu nenek dan kakekku. Terlihat juga Tante Rike serta seorang perempuan lebih tua dari Tante Rike yang kemungkinan besar dia adalah Tante Tina adik dari seorang pria yang saat ini tidak aku akui sebagai ayah. Seorang pria separuh baya. Mungkin itu Om Hendi suami dari Tante Tina. Di sana ada juga seorang gadis cantik yang kira-kira umurnya beberapa tahun lebih muda dari aku, mungkin itu Ria anak dari Tante Tina dan Om Hendi. Tak lupa, di sana juga ada pria itu, pria yang membuat darahku mendidih saat melihatnya.</p>
<p class="MsoNormal">Tante Rike langsung menyambut kehadiranku dan menuntunku ke kamar mandi, seakan-akan dia selalu bisa membaca dengan jelas apa yang ada dalam pikiranku.</p>
<p class="MsoNormal">Setelah mandi, mereka meminta aku untuk makan bersama. Mereka makan sambil sesekali bersenda gurau. Sungguh menyenangkan suasana di keluarga ini. Entah sudah berapa lama aku tak merasakan hangatnya keluarga seperti yang aku rasakan sekarang. Selama ini hanya aku, adik dan ibu yang tinggal di rumah. Suasana selalu sunyi, karena ibu tak pernah membolehkan kami bersenda gurau saat makan. Aku membayangkan alangkah indahnya hidup ini jika keluargaku seperti ini. Tapi itu hanyalah impianku saja, karena kenyataannya aku tak pernah merasakannya sejak ayah pergi merantau dan ibu selalu sibuk dengan kegiatannya.</p>
<p class="MsoNormal">Aku benar-benar menikmati suasana yang ada di rumah ini. Sampai akhirnya semua orang mulai meninggalkan meja makan satu per satu dan pergi. Aku tak tahu apa yang harus aku lakukan. Aku menuju ke ruang keluarga, duduk di sofa dan menyalakan televisi. Tiba-tiba pria yang tidak lain adalah ayahku itu datang menghampiriku, dia duduk didekatku dan memegang pundakku. Dia tersenyum dan mulai berkata.</p>
<p class="MsoNormal">“Tolong dengarkan ayah, dan jangan memotong cerita ayah sebelum selesai. Mungkin selama ini kamu hanya mendengar cerita dari ibumu saja kenapa ayah pergi. Jadi biarkan ayah juga menjelaskan alasan kenapa ayah pergi.”</p>
<div style="border:medium medium 2.25pt none none double 0 0 windowtext;padding:0 0 1pt;">
<p class="MsoNormal" style="border:medium none;padding:0;">Saat itu aku hanya diam. Mencoba untuk membuka hati dan mendengarkan cerita pria yang ada di dekatku.</p>
<p class="MsoNormal" style="border:medium none;padding:0;">
<p class="MsoNormal" style="border:medium none;text-align:center;padding:0;">oooo0000oooo</p>
<p class="MsoNormal" style="border:medium none;text-align:center;padding:0;">
<p class="MsoNormal" style="border:medium none;text-align:left;padding:0;"><!--[if gte mso 9]&gt;  Normal 0   false false false        MicrosoftInternetExplorer4  &lt;![endif]--><!--[if gte mso 9]&gt;   &lt;![endif]--><!--  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-parent:""; 	margin:0cm; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} @page Section1 	{size:612.0pt 792.0pt; 	margin:72.0pt 90.0pt 72.0pt 90.0pt; 	mso-header-margin:36.0pt; 	mso-footer-margin:36.0pt; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --><!--[if gte mso 10]&gt; &lt;!   /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; 	mso-para-margin:0cm; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:#0400; 	mso-fareast-language:#0400; 	mso-bidi-language:#0400;} --> <!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal">“Kenapa engkau selalu memaksa aku untuk menikahi gadis itu?”, tanya<span> </span>Pri.</p>
<p class="MsoNormal">“Apa salahnya jika kau menikahinya? Toh dia juga masih gadis, dia juga wanita baik-baik. Tak ada alasan bagimu untuk tidak mencintainya. Lagian, apa yang bisa kamu banggakan? Kamu sudah tua, kakimu pincang, seharusnya kamu merasa beruntung bisa menikahi gadis seperti Heni”, jawab Maya yang tak mau kalah.</p>
<p class="MsoNormal">“Apa maksudmu?”</p>
<p class="MsoNormal">“Aku tak ada maksud apa-apa. Aku hanya ingin kamu menikahi Heni, titik.”</p>
<p class="MsoNormal">“Kenapa kamu ingin suamimu ini menikah lagi?”</p>
<p class="MsoNormal">“Apa ada yang salah jika aku menyuruh suamiku berpoligami? Bukankah poligami juga diperbolehkan dalam agama?”</p>
<p class="MsoNormal">“Jika memang aku punya niat untuk poligami, aku akan memilih sendiri wanita yang ingin aku nikahi. Tapi demi Tuhan, aku tak ada niat untuk poligami.”</p>
<p class="MsoNormal">“Terserah, kamu mau bilang apa. Nikahi gadis itu, atau kau ceraikan aku.”</p>
<p class="MsoNormal">“Ngomong apa kamu ini? Cabut kata-katamu itu. Berpikirlah dulu sebelum kau mengucapkannya.”</p>
<p class="MsoNormal">“Aku sudah memikirkannya baik-baik. Jika kamu tidak mau menikahi gadis itu, lebih baik kau ceraikan aku.”</p>
<p class="MsoNormal">Maya pergi meninggalkan Pri dengan wajah sewot.</p>
<p class="MsoNormal">Setelah pertengkaran itu, Pri dan Maya tak lagi bertegur sapa. Sampai akhirnya suatu malam, pertengkaran pecah lagi diantara mereka.</p>
<p class="MsoNormal">“Sekarang kamu harus memutuskan, nikahi Heni atau ceraikan aku!”, suara Maya yang terdengar jelas ditengah heningnya malam.</p>
<p class="MsoNormal">“Kenapa kau selalu memojokkan aku? Aku akan tetap berusaha untuk mempertahankan keluarga ini. Tapi aku tak akan mau menikah dengan Heni. Apapun yang terjadi. Karena aku tak mau mempermainkan dia, menikahinya hanya karena kamu paksa. Andai kata aku menikahinya, belum tentu aku bisa membahagiakan dia. Menikahinya, sama halnya dengan melakukan sebuah kesalahan.”</p>
<p class="MsoNormal">“Jadi kamu lebih memilih untuk menceraikan aku daripada harus menikahi Heni?”</p>
<p class="MsoNormal">“Demi Tuhan, aku tak ingin melakukannya. Tolong kamu pikirkan lagi.”</p>
<p class="MsoNormal">“Tidak ada yang perlu dipikirkan lagi, ceraikan aku!”</p>
<p class="MsoNormal">“Apa tidak ada cara lain untuk mempertahankan keluarga ini?”</p>
<p class="MsoNormal">“Tidak!”</p>
<p class="MsoNormal">“Sungguh dengan berberat hati, jika memang itu maumu, aku akan mengabulkannya. Tak ada gunanya aku mempertahankan istri yang tak lagi menginginkan aku.”</p>
<p class="MsoNormal">“Terimakasih kau telah mengabulkannya. Tapi aku<span> </span>punya satu permohonan, tolong jangan kau bawa anak-anak jika kau pergi.”</p>
<p class="MsoNormal">“Asal kau tak akan pernah mensia-siakan mereka..”, kata Pri lirih.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;">oooo0000oooo</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;"><!--[if gte mso 9]&gt;  Normal 0   false false false        MicrosoftInternetExplorer4  &lt;![endif]--><!--[if gte mso 9]&gt;   &lt;![endif]--><!--[if !mso]&gt;--></p>
<p class="MsoNormal">Pri yang tak lain adalah ayahku terus bercerita. Persis apa yang diceritakan tetangga dan keluargaku<span> </span>di Medan. Aku tak mampu menahan air mataku. Aku memeluk ayahku dan menangis dalam dekapannya.</p>
<p class="MsoNormal">“Lalu kenapa ayah tak pernah menjengukku?”</p>
<p class="MsoNormal">“Ayah sering datang ke rumah, tapi ibumu selalu bilang kalian sudah tidur dan tak pernah mengijinkan aku untuk melihat wajah kalian saat tidur barang sejenak.”</p>
<p class="MsoNormal">“Kalau tak bisa menemuiku, kenapa ayah tak mencoba untuk menelepon kami?”</p>
<p class="MsoNormal">“Tiap kali aku telepon, ibumu yang mengangkat. Dia bilang kalau dia sedang tidak di rumah. Selama ini ayah hanya bisa menunggu dan berharap kalian mau menelpon ayah.”</p>
<p class="MsoNormal">“Mana bisa ayah berbuat seperti itu? Bagaimana kami bisa telepon ayah, jika kami saja tak punya nomor ayah. Kenapa tidak dari dulu ayah mengundang aku untuk datang kesini?”</p>
<p class="MsoNormal">“Ayah sudah lama mengundangmu. Tapi kakek dan nenekmu bilang, kalau mereka belum bisa menyampaikannya pada kalian. Sudahlah, yang penting sekarang ini kamu sudah tahu yang sebenarnya terjadi.”</p>
<p class="MsoNormal">“Maafkan aku ayah….”, mereka saling berpelukan dengan erat. Tangis mereka meledak Tangis kebahagiaan dua orang yang selama ini terpisahkan oleh keadaan.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;">~oooo0000oooo~</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;">
</div>
</div>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/eeni.wordpress.com/63/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/eeni.wordpress.com/63/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/eeni.wordpress.com/63/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/eeni.wordpress.com/63/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/eeni.wordpress.com/63/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/eeni.wordpress.com/63/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/eeni.wordpress.com/63/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/eeni.wordpress.com/63/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/eeni.wordpress.com/63/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/eeni.wordpress.com/63/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=eeni.wordpress.com&blog=1054058&post=63&subd=eeni&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://eeni.wordpress.com/2008/09/26/kenapa-ayah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/0631d17bf3ddc7cb92e45df659a0b4a8?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">eeni</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Yovie &amp; Nuno &#8211; Menjaga Hati</title>
		<link>http://eeni.wordpress.com/2008/01/16/yovie-nuno-menjaga-hati/</link>
		<comments>http://eeni.wordpress.com/2008/01/16/yovie-nuno-menjaga-hati/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 16 Jan 2008 02:59:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>eeni</dc:creator>
				<category><![CDATA[Lirik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://eeni.wordpress.com/2008/01/16/yovie-nuno-menjaga-hati/</guid>
		<description><![CDATA[masih tertinggal bayanganmu
yang telah membekas di relung hatiku
hujan tanpa henti seolah bertanda
cinta tak disini lagi, kau tlah berpaling
[Reff:]
biarkan aku menjaga perasaan ini oh&#8230;
menjaga segenap cinta yang telah kau beri&#8230;
engkau pergi aku takkan pergi
kau menjauh aku takkan jauh
sebenarnya diriku masih mengharapkanmu
masih adakah cahaya rindumu
yang dulu selalu cerminkan hatimu
aku takkan bisa menghapus dirimu
meski ku lihat kini kau [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=eeni.wordpress.com&blog=1054058&post=62&subd=eeni&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>masih tertinggal bayanganmu<br />
yang telah membekas di relung hatiku<br />
hujan tanpa henti seolah bertanda<br />
cinta tak disini lagi, kau tlah berpaling</p>
<p>[Reff:]<br />
biarkan aku menjaga perasaan ini oh&#8230;<br />
menjaga segenap cinta yang telah kau beri&#8230;<br />
engkau pergi aku takkan pergi<br />
kau menjauh aku takkan jauh<br />
sebenarnya diriku masih mengharapkanmu</p>
<p>masih adakah cahaya rindumu<br />
yang dulu selalu cerminkan hatimu<br />
aku takkan bisa menghapus dirimu<br />
meski ku lihat kini kau di seberang sana</p>
<p>Repeat [Reff]</p>
<p>andai akhirnya kau tak juga kembali<br />
aku tetap sendiri menjaga hati&#8230;..</p>
<p>Repeat [Reff] 2x</p>
<p>sejujurnya diriku masih mengharapkanmu</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/eeni.wordpress.com/62/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/eeni.wordpress.com/62/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/eeni.wordpress.com/62/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/eeni.wordpress.com/62/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/eeni.wordpress.com/62/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/eeni.wordpress.com/62/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/eeni.wordpress.com/62/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/eeni.wordpress.com/62/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/eeni.wordpress.com/62/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/eeni.wordpress.com/62/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/eeni.wordpress.com/62/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/eeni.wordpress.com/62/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=eeni.wordpress.com&blog=1054058&post=62&subd=eeni&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://eeni.wordpress.com/2008/01/16/yovie-nuno-menjaga-hati/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/0631d17bf3ddc7cb92e45df659a0b4a8?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">eeni</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Puisi Noe di VK Permintaan Hati</title>
		<link>http://eeni.wordpress.com/2008/01/16/puisi-noe-di-vk-permintaan-hati/</link>
		<comments>http://eeni.wordpress.com/2008/01/16/puisi-noe-di-vk-permintaan-hati/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 16 Jan 2008 02:57:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>eeni</dc:creator>
				<category><![CDATA[ba bi bu...]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://eeni.wordpress.com/2008/01/16/puisi-noe-di-vk-permintaan-hati/</guid>
		<description><![CDATA[Wah ternyata Video Klip Permintaan Hati bener-bener nyentuh. Apalagi saat Noe baca surat untuk Marsha. Oh&#8230;..sedih dan menyentuh banget. Aku banget!!!!(smua-mua kok aku banget ya?  )
Untuk Marsha
Cahayaku&#8230;..
..Nggak ada kata yang bisa aku sampaikan
selain &#8216;Maaf&#8217; dan &#8216;Terimakasih&#8217;
sudah memberikan arti di hidupku yang sempit ini
..aku harus pergi
bukan meninggalkanmu
tapi hanya terlepas darimu
jika kamu yakin denganku,
maka memang inilah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=eeni.wordpress.com&blog=1054058&post=60&subd=eeni&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Wah ternyata Video Klip Permintaan Hati bener-bener nyentuh. Apalagi saat Noe baca surat untuk Marsha. Oh&#8230;..sedih dan menyentuh banget. Aku banget!!!!(<i>smua-mua kok aku banget ya? <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </i>)</p>
<p align="right"><i>Untuk Marsha<br />
Cahayaku&#8230;..</p>
<p>..Nggak ada kata yang bisa aku sampaikan<br />
selain &#8216;Maaf&#8217; dan &#8216;Terimakasih&#8217;<br />
sudah memberikan arti di hidupku yang sempit ini</p>
<p>..aku harus pergi<br />
bukan meninggalkanmu<br />
tapi hanya terlepas darimu</p>
<p>jika kamu yakin denganku,<br />
maka memang inilah cara terbaik<br />
untuk dijalankan&#8230; </i></p>
<p align="left">PS: Sayangku, baca tulisan ini ya&#8230;. Aku tak ingin menyalahkanmu, tapi tolong jangan kau salahkan keputusanku&#8230;&#8230;</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/eeni.wordpress.com/60/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/eeni.wordpress.com/60/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/eeni.wordpress.com/60/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/eeni.wordpress.com/60/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/eeni.wordpress.com/60/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/eeni.wordpress.com/60/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/eeni.wordpress.com/60/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/eeni.wordpress.com/60/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/eeni.wordpress.com/60/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/eeni.wordpress.com/60/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/eeni.wordpress.com/60/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/eeni.wordpress.com/60/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=eeni.wordpress.com&blog=1054058&post=60&subd=eeni&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://eeni.wordpress.com/2008/01/16/puisi-noe-di-vk-permintaan-hati/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/0631d17bf3ddc7cb92e45df659a0b4a8?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">eeni</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Ujian yang beruntun</title>
		<link>http://eeni.wordpress.com/2008/01/11/ujian-yang-beruntun/</link>
		<comments>http://eeni.wordpress.com/2008/01/11/ujian-yang-beruntun/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 11 Jan 2008 08:41:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>eeni</dc:creator>
				<category><![CDATA[ba bi bu...]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://eeni.wordpress.com/2008/01/11/ujian-yang-beruntun/</guid>
		<description><![CDATA[Tragis memang nasibku kali ini.
Semua datang secara beruntun. Kenapa bukan kebahagiaan yang datang. Tapi malah kemalangan yang mendera.
Sakit hati dan rasa cemburu yang sudah memuncak membuat aku minta bubaran.
Itu menyakitkan. 
Sehari sesudahnya, radang tenggorokan membuat aku susah makan. Penyakit yang sudah lama bersemayam dalam tubuhku pun kambuh, &#8220;mag&#8221;.
Itu menyedihkan. 
Kesialan masih berlanjut. Setelah sehari aku [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=eeni.wordpress.com&blog=1054058&post=58&subd=eeni&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Tragis memang nasibku kali ini.<br />
Semua datang secara beruntun. Kenapa bukan kebahagiaan yang datang. Tapi malah kemalangan yang mendera.<br />
Sakit hati dan rasa cemburu yang sudah memuncak membuat aku minta bubaran.<br />
Itu menyakitkan. <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_sad.gif' alt=':(' class='wp-smiley' /><br />
Sehari sesudahnya, radang tenggorokan membuat aku susah makan. Penyakit yang sudah lama bersemayam dalam tubuhku pun kambuh, &#8220;mag&#8221;.<br />
Itu menyedihkan. <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_sad.gif' alt=':(' class='wp-smiley' /><br />
Kesialan masih berlanjut. Setelah sehari aku merasakan sakit di badan, motorku di pinjam teman. Dan sialnya, temanku mengalami kecelakaan.<br />
Itu mengenaskan. <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_sad.gif' alt=':(' class='wp-smiley' /><br />
Sakit jasmani, rohani dan materi. Itulah yang sedang aku hadapi.<br />
Ya Allah, beri aku kesabaran&#8230;&#8230;</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/eeni.wordpress.com/58/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/eeni.wordpress.com/58/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/eeni.wordpress.com/58/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/eeni.wordpress.com/58/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/eeni.wordpress.com/58/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/eeni.wordpress.com/58/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/eeni.wordpress.com/58/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/eeni.wordpress.com/58/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/eeni.wordpress.com/58/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/eeni.wordpress.com/58/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/eeni.wordpress.com/58/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/eeni.wordpress.com/58/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=eeni.wordpress.com&blog=1054058&post=58&subd=eeni&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://eeni.wordpress.com/2008/01/11/ujian-yang-beruntun/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/0631d17bf3ddc7cb92e45df659a0b4a8?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">eeni</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Perpisahan ini</title>
		<link>http://eeni.wordpress.com/2008/01/11/perpisahan-ini/</link>
		<comments>http://eeni.wordpress.com/2008/01/11/perpisahan-ini/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 11 Jan 2008 08:25:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>eeni</dc:creator>
				<category><![CDATA[ba bi bu...]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://eeni.wordpress.com/2008/01/11/perpisahan-ini/</guid>
		<description><![CDATA[Pertemuan dan perpisahan bagaikan dua kutub dalam satu lingkaran.
Jadi, jika ada pertemuan pasti ada perpisahan. Bukankah itu wajar? Bukankah memang tak ada satu pun yang abadi?
Lalu ketika perpisahan terjadi, siapakah yang lebih merasa sedih?
Yang ditinggalkan atau yang pergi meninggalkan? Masih perlukah kesedihan itu?
Kenapa perpisahan dan kehilangan itu sangat menyakitkan?
Bukankah sebelumnya kita juga bisa dan biasa [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=eeni.wordpress.com&blog=1054058&post=57&subd=eeni&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Pertemuan dan perpisahan bagaikan dua kutub dalam satu lingkaran.<br />
Jadi, jika ada pertemuan pasti ada perpisahan. Bukankah itu wajar? Bukankah memang tak ada satu pun yang abadi?<br />
Lalu ketika perpisahan terjadi, siapakah yang lebih merasa sedih?<br />
Yang ditinggalkan atau yang pergi meninggalkan? Masih perlukah kesedihan itu?<br />
Kenapa perpisahan dan kehilangan itu sangat menyakitkan?<br />
Bukankah sebelumnya kita juga bisa dan biasa hidup tanpanya? Mungkin jawabnya adalah karena sesuatu yang pergi dan hilang itu sudah terlanjur memiliki ruang tersendiri dalam hidup kita dan ruang itu kini menjadi kosong&#8230;.</p>
<p>Seperti halnya saat ini. Sebenernya aku tak menginginkan perpisahan, tapi apa yang bisa aku lakukan? Semua karna terpaksa.<br />
Aku telah memberi kesempatan bagimu untuk berubah, tapi kenapa kau tak pernah mau berubah.</p>
<p>Aku berusaha untuk merubahmu, bukan karna aku egois, tapi karna aku sangat menyayangimu. Aku tak ingin orang-orang yang disekitarmu membencimu karna sifat dan sikap burukmu.</p>
<p>Ah&#8230;sudahlah, siapa diriku ini yang terlalu berambisi untuk merubah seseorang menjadi lebih baik. Padahal aku sendiri juga bukan orang yang sempurna.</p>
<p>Tidak semua yang kita hadapi bisa berubah, tapi tidak ada yang bisa berubah sebelum di hadapi. Jadi, apapun yang terjadi, harus aku hadapi&#8230;. Meskipun kadang menyakitkan&#8230; <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_sad.gif' alt=':(' class='wp-smiley' />  Siapa tahu sesuatu yang menyakitkan itu akan membawa hikmah tersendiri dalam hidupku. Karena ujian datang untuk menguatkan seseorang.</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/eeni.wordpress.com/57/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/eeni.wordpress.com/57/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/eeni.wordpress.com/57/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/eeni.wordpress.com/57/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/eeni.wordpress.com/57/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/eeni.wordpress.com/57/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/eeni.wordpress.com/57/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/eeni.wordpress.com/57/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/eeni.wordpress.com/57/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/eeni.wordpress.com/57/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/eeni.wordpress.com/57/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/eeni.wordpress.com/57/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=eeni.wordpress.com&blog=1054058&post=57&subd=eeni&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://eeni.wordpress.com/2008/01/11/perpisahan-ini/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/0631d17bf3ddc7cb92e45df659a0b4a8?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">eeni</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Nonton TV Indonesia yuk&#8230;.!!!!!</title>
		<link>http://eeni.wordpress.com/2008/01/11/nonton-tv-indonesia-yuk/</link>
		<comments>http://eeni.wordpress.com/2008/01/11/nonton-tv-indonesia-yuk/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 11 Jan 2008 07:51:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>eeni</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tips]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://eeni.wordpress.com/2008/01/11/nonton-tv-indonesia-yuk/</guid>
		<description><![CDATA[Waktu iseng-iseng browsing, aku nemuin site yang memungkinkan untuk nonton tv Indonesia secara online. Di buat oleh Universitas Bina Nusantara dengan nama Bee-Watch. Di sini kita bisa menonton empat stasiun televisi di Indonesia yaitu: Trans TV, Metro TV, SCTV, dan RCTI meskipun berada di luar negeri.
Untuk menontonnya, hanya di butuhkan RealOne player. Semakin cepat koneksi [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=eeni.wordpress.com&blog=1054058&post=56&subd=eeni&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Waktu iseng-iseng browsing, aku nemuin site yang memungkinkan untuk nonton tv Indonesia secara online. Di buat oleh Universitas Bina Nusantara dengan nama Bee-Watch. Di <a href="http://www.binus-access.com/bee-watch/">sini</a> kita bisa menonton empat stasiun televisi di Indonesia yaitu: <a href="http://www.binus-access.com/bee-watch/tv-trans.html">Trans TV</a>, <a href="http://www.binus-access.com/bee-watch/tv-metro.html">Metro TV</a>, <a href="http://www.binus-access.com/bee-watch/tv-sctv.html">SCTV</a>, dan <a href="http://www.binus-access.com/bee-watch/tv-rcti.html">RCTI</a> meskipun berada di luar negeri.<br />
Untuk menontonnya, hanya di butuhkan RealOne player. Semakin cepat koneksi internet yang anda gunakan maka akan menghasilkan gambar dengan kualitas yang semakin bagus. Jadi bagi anda yang berada di luar negeri, tak perlu bingung klo kangen ma acara-acara televisi Indonesia. Tapi untuk masalah legal tidak-nya menonton tv lewat web, saya kurang tau. Disini saya hanya mencoba untuk memberi tahu link-nya saja.<br />
Selamat mencoba!!!!!!</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/eeni.wordpress.com/56/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/eeni.wordpress.com/56/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/eeni.wordpress.com/56/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/eeni.wordpress.com/56/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/eeni.wordpress.com/56/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/eeni.wordpress.com/56/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/eeni.wordpress.com/56/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/eeni.wordpress.com/56/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/eeni.wordpress.com/56/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/eeni.wordpress.com/56/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/eeni.wordpress.com/56/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/eeni.wordpress.com/56/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=eeni.wordpress.com&blog=1054058&post=56&subd=eeni&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://eeni.wordpress.com/2008/01/11/nonton-tv-indonesia-yuk/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/0631d17bf3ddc7cb92e45df659a0b4a8?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">eeni</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Radang Tenggorokan</title>
		<link>http://eeni.wordpress.com/2008/01/08/55/</link>
		<comments>http://eeni.wordpress.com/2008/01/08/55/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 08 Jan 2008 03:42:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>eeni</dc:creator>
				<category><![CDATA[ba bi bu...]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://eeni.wordpress.com/2008/01/08/55/</guid>
		<description><![CDATA[
Huh&#8230;. susah banget konsentrasi&#8230;.
Tambah pusing klo di buat mikir&#8230;
Smua karna radang tenggorokan..
Tenggorokan terasa menyempit, buat nelen sakit, maem sakit, minum sakit,menguap sakit, ngomong sakit&#8230;jadi males ngomong deh&#8230;
Bingung juga mo disalurin kemana neh energi yang harusna aku pake ngomong.
Badan rasanya panas banget&#8230;. sepanas hatiku (halahh&#8230;..)
Tapi yang jelas, keadaanku ini ga da hubungannya ma kejadian yang aku [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=eeni.wordpress.com&blog=1054058&post=55&subd=eeni&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><div align="left"><a href="http://eeni.files.wordpress.com/2008/01/cry.jpg" title="cry"><img src="http://eeni.files.wordpress.com/2008/01/cry.thumbnail.jpg" alt="cry" align="left" /></a></div>
<p>Huh&#8230;. susah banget konsentrasi&#8230;.<br />
Tambah pusing klo di buat mikir&#8230;<br />
Smua karna radang tenggorokan..<br />
Tenggorokan terasa menyempit, buat nelen sakit, maem sakit, minum sakit,menguap sakit, ngomong sakit&#8230;jadi males ngomong deh&#8230;<br />
Bingung juga mo disalurin kemana neh energi yang harusna aku pake ngomong.<br />
Badan rasanya panas banget&#8230;. sepanas hatiku (<i>halahh&#8230;..</i>)<br />
Tapi yang jelas, keadaanku ini ga da hubungannya ma kejadian yang aku alami, bukan karna patah hati&#8230;.<br />
Meskipun mungkin imbas dari sakit hati&#8230; <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /><br />
Hanya karna ga mau kurus n ga doyan makan karna sakit ati, aku santap smua makanan yang ada di depanku. Mikirnya, mumpung masih doyan. Coz sesuai dengan kebiasaan, klo lagi banyak masalah pa lagi patah hati, aku ga doyan makan. Makanya aku pengen ngerubah semua itu&#8230; Aku harus makan sebanyak-banyaknya (<i>tapi ini doyan apa lapar seh??? <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' />  tau ah!!!</i>).<br />
Mulai dari kepiting (<i>yang berminyak n pedesnya minta ampun, coz banyak mericanya</i>), roti bakar (<i>makanan berminyak</i>), nasi goreng, semua masuk ke perut. Dah ga mikir penyakit yang sering nyiksa badan&#8230; Ga peduli klo lambung sakit lagi n harus masuk rumah sakit, ga peduli klo radang tenggorokan kumat, yang penting makan&#8230;..<br />
Puas banget rasanya. Tapi selang beberapa menit, perut mulai panas. Duh Allah, moga-moga aku ga sakit. Ternyata setelah beberapa saat aku biarin, ga da reaksi apa-apa. Habisna dah sering makan makanan yang lebih pedes dari itu. Mang ga nyadar klo dah ketemu ma makanan pedes, pengennya main sikat aja.<br />
Akhirnya&#8230; aku tetep bisa tidur dengan nyenyak.<br />
Subuh hampir tiba, tanpa ada ngomong apa-apa, badanku terasa panas, tenggorokanku kek di cekik, ampe batuk-batuk&#8230; Ku ambil minum, aduuuuhhh sakit banget buat nelan air&#8230;.<br />
Ternyata, bukan lambungku yang kumat, tapi radang tenggorokanku yang kambuh lagi&#8230;<br />
Hiks&#8230;. <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_sad.gif' alt=':(' class='wp-smiley' /> <i> Sedih mode</i> ON (Ingat!!! <i>Bukan karena patah hati, tapi radang tenggorokan</i> <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' />  )</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/eeni.wordpress.com/55/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/eeni.wordpress.com/55/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/eeni.wordpress.com/55/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/eeni.wordpress.com/55/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/eeni.wordpress.com/55/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/eeni.wordpress.com/55/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/eeni.wordpress.com/55/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/eeni.wordpress.com/55/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/eeni.wordpress.com/55/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/eeni.wordpress.com/55/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/eeni.wordpress.com/55/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/eeni.wordpress.com/55/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=eeni.wordpress.com&blog=1054058&post=55&subd=eeni&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://eeni.wordpress.com/2008/01/08/55/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/0631d17bf3ddc7cb92e45df659a0b4a8?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">eeni</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://eeni.files.wordpress.com/2008/01/cry.thumbnail.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">cry</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>